Mendulang Medali di Pekan Olahraga Nasional (PON)

0
522

MENDULANG MEDALI DI PEKAN OLAHRAGA NASIONAL (PON)

PON atau Pekan Olahraga Nasional pertama kali berlangsung pada tanggal 12 September tahun 1948 di Solo yang digagas oleh para pejuang bangsa sebagai alat pemersatu bangsa. Serta dengan tujuan untuk menunjukkan kepada kaum penjajah saat itu (Selain itu PON I juga membawa misi untuk menunjukkan kepada dunia luar bahwa bangsa Indonesia dalam keadaan daerahnya dipersempit akibat Perjanjian Renville, masih dapat membuktikan sanggup mengadakan acara olahraga dengan skala nasional) dan PON lah bentuk konkrit sebagai alat pemersatu bangsa.

Di era kemerdekaan hingga saat ini PON tetap sebagai agenda olahraga nasional 4 tahunan dengan perkembangan yang luar biasa namun mulai terjadi pergeseran nilai dari tujuan awalnya, dimana kepentingan secara nasional mulai bergeser cepat kepada kepentingan dan kebanggaan atas daerah masing-masing, apalagi bagi sang tuan rumah sebagai penyelenggara.

Hal ini tidak bisa dipungkiri ketika daerah (daerah provinsi) berlomba lomba mengajukan diri sebagai tuan rumah PON, hingga berani mengeluarkan biaya penyelenggaraan yang sedemikian besar demi nama daerah. Juga dengan berbagai strategi dan tujuan dapat mendulang medali emas sebanyak-banyaknya.

Seperti PON XIX Jabar 2016 yang baru saja berakhir dengan upacara penutupan pada 29 September 2016 kemarin oleh Wapres Yusuf Kalla. Banyak cerita yang kita dengar, serta dapat kita jadikan sebagai hikmah catatan tersendiri terhadap apa yang terjadi dari segi penyelenggaraannya. Sebagai orang yang puluhan tahun berkecimpung di olahraga termasuk di kepengurusan KONI pusat, saya menterjemahkan apa yang terjadi di PON XIX Jabar kemarin sebagai sebuah keniscayaan dari kepentingan mendulang medali emas untuk daerah yang diwakilinya.

Max Sopacua bersama panpel PON XIX 2016 Jabar
Max Sopacua bersama panpel PON XIX 2016 Jabar

Memang perlu evaluasi khusus seperti yang dikatakan Menpora dan perlu juga dipertegas kriteria sebuah cabang olahraga untukk bisa di pertandingkan di PON apabila PON mau dijadikan starting point menuju Sea Games, Asian Games dan Olyimpiade. Banyak hal yang harus dikritisi diarena partandingan karena disinyalir keberpihakan wasit, terjadi perkelahian di arena pertandingan dan lain-lain.

Munculnya atlet-atlet muda dengan prestasi yang mampu mengalahkan seniornya dan bahkan mengalahkan atlet nasional menjadi catatan tersendiri bagi pembinaan kedepannya. Lain halnya dengan salah satu  cabang olahraga yang sangat tenang dan damai dimata publik, dalam pertandinganya biarpun terjadi persaingan yangg luar biasa, yakni cabang Golf yang berlokasi di Bandung Giri Gahana Golf Jatinangor. Golf jauh dari keributan, Golf jauh dari hingar bingar penonton, tetapi sangat dalam dibidang persaingan, penuh pressure dan tensi yang tinggi namun tetap tenang. Golf memperlihatkan pemain-pemain muda binaan pengprov PGI maupun PB PGI dan suport orang tua pemain.

Dan sebagai catatan hampir semua medali diperoleh oleh atlet yang tidak diperhitungan sebelumnya, dan bukan merupakan pegolf yang pernah memperkuat team nasional, hanya satu medali emas di kelompok beregu putra yang diraih dengan keberadaan atlet nasional. Hal ini terjadi tidak hanya di Golf, di cabang olah raga lainnya juga.

DKI Jakarta, Jabar dan Jatim adalah 3 daerah jumlah pegolf terbanyak, baik senior maupun junior. Persaingan antara ketiga daerah ini dalam perebutan medali emas luar biasa, yang pada akhirnya Jatim unggul dengan 4 emas 1 perak 2 perunggu. DKI meraih 2 emas 4 perak 1 perunggu, sementara tuan rumah Jabar berada pada posisi ke 3 dengan 1 emas dan 1 perak.

Melihat perkembangan cabang Golf di PON XIX Jabar ini ada daerah yg melaju pesat namun ada juga yang tersendat. Dari pengamatan selama beberapa hari terlihat ada kesenjangan dalam hubungan antar individu. Apakah itu antar pemain dengan pengurus atau antar sesama pemain.

Olahraga Golf disebut sebagai sport elite dan memungkinkan para pemain juga berasal dari keluarga yang berada. Keadaan ini sangat memungkinkan kesenjangan terjadi antara pemain yang dibina oleh orang tuanya dengan pengurus cabang ini di tingkat provinsi. Sehingga adakalanya pengurus cabang ini kewalahan menghadapi situasi atlet dimana adakalanya orang tua lebih dominan dibanding pengurus. Yang dipertanyakan adalah sejauh mana komitmen seorang atlet dengan status amatir dibanding dengan yang sudah berstatus profesional (pro). Kita masih akan menghadapi even internasional seperti Sea Games tahun depan dan Asian Games 2018, yang mana indonesia sebagai tuan rumahnya.

Hubungan antara pengurus dan pemain rasanya harus mendapat prioritas untuk dibenahi, karena degan hubungan yang harmonis antara kedua pihak akan melahirkan hasil maksimal. Mantan Ketua KONI Pusat Wismoyo Arismunandar kepada semua pembina dan pengurus berbagai cabang olahraga menanamkan pesan filosofi ”Hubungan yg indah antara pemimpin dan yang dipimpin akan bisa menghasilkan sesuatu yang tidak mungkin, menjadi mungkin”.

Apapun yang akan terjadi dalam roda pembinaan pemain harus terus bergulir, persaingan antar daerah di PON XX Papua tahun 2020 nanti akan berulang kembali. Mari benahi diri sejak dini untuk capai hasil yang lebih baik…

Max Sopacua

Panpel PON XIX 2016 Jabar
Panpel PON XIX 2016 Jabar

 

Facebook Comments