Prediksi IHSG Hari Ini

0
473

KGI SEKURITAS: IHSG Sasar Level di Atas 5.200

JAKARTA- PT. KGI Sekuritas Indonesia memperkirakan indeks harga saham gabungan pada perdagangan hari ini, Senin (21/11/2016) bergerak di kisaran support 5.120-5.040-4.975,  dan resisten 5.270-5.370-5.410-5.525-5.620.

“IHSG anteng ditas 5.120, tren mulai pulih,” kata Periset Senior KGI Sekuritas Indonesia Yuganur Wijanarko dalam risetnya.

IHSG diprediksi menguat. – .

Dikemukakan terlihat perbaikan tren IHSG.  Dari sebelumnya negatif, akibat aksi jual pengikut kaum beruang yang telah merontokan IHSG dari high 5.481 hingga 5.060, telah mendorong kenaikan diatas level 5.120 yang sekarang menjadi support.

“Untuk mendukung break out tren jangka pendek ke level 5.270 (price gap pertama) dan price gap atas kedua di grafik harian di 5.450,” kata Yuganur.

PT.KGI Sekuritas Indonesia merekomendasikan saham berikut:

  • Bank Jabar (BJBR) (Trading target: Rp1.525-Rp1.625)

Secara teknikal pattern perbaikan short dan medium term trend di emitten small cap perbankan ini membuatnya menarik untuk di akumulasi melihat kinerja expektasi earnings kedepan di 2016-2017 dengan skenario kenaikan berikutnya menuju resistance psikologis di Rp1.525-Rp1.625

Entry (1) Rp1.440. Entry (2) Rp1.410. Cut loss point Rp1.385

  • Timah (TINS) (Trading target Rp1.140-Rp1.240)

Harga komoditas yang mulai bottoming di low 10 tahun terakhir dan valuasi sektor yang cukup murah setelah tertekan sekian lama membuat emitten tambang ini menarik untuk di akumulasi jangka medium term, rekomen akumulasi untuk potensi kenaikan berikutnya ke Rp1.140-Rp1.240.

Entry (1) Rp1.040. Entry (2) Rp1.010. Cut loss point Rp995

  • Tiga Pillar (AISA) (Trading target Rp2.150)

Secara teknikal perbaikan short dan medium term emitten small cap consumer ini dapat digunakan sebagai akumulasi untuk kontinuasi kenaikan short dan medium term berikutnya ke Rp2.150.

Entry (1) Rp1.960. Entry (2) Rp1.910. Cut loss point Rp1.850

  • Bumi Serpong Damai (BSDE) (BUY) (Trading Target Rp1.900-Rp2.100)

Pattern perbaikan momentum dalam short dan medium term emitten property ini dapat digunakan sebagai trading opportunity mengikuti kontinuasi kenaikan berikutnya ke resistance psikologis Rp1.900-Rp2.100.

Entry (1) Rp1.805, Entry (2) Rp1.785. Cut loss point Rp1.755 bisnis.com

__________________________________________________________

Riset Harian
Riset Ekonomi Samuel

Berita Global

·         Leading Index AS melambat ke 0,1% dari 0,2% di Okt16. (Bloomberg)

·         Meksiko mengatakan TPP akan tetap dilakukan dengan Jepang, Australia, Malaysia, Selandia Baru dan Singapura dengan atau tanpa AS. (Reuters)

·         James Bullard dari the Fed mulai mendukung rencana kenaikan FFR target Des16 mendatang. Sementar William Dudley, presiden the Fed New York, mengatakan hasil pemilu AS tidak pengaruhi keputusan the Fed. (Reuters)

Berita Domestik

·         BI melaporkan utang luar negeri pada akhir 3Q16 tercatat sebesar $325,3 miliar atau tumbuh 7,8% YoY. Jumlah utang luar negeri swasta kembali turun pada 3Q16 sebesar 2,7% YoY. (Antara)

·         BI melaporkan hasil survei pekan ketiga Nov16 menunjukkan adanya tekanan inflasi sebesar 0,39% MoM (3,47% YoY). (Bisnis Indonesia)

·         Bankir mengutarakan pendapat senada dengan bank sentral bahwa kredit pada tahun depan bisa tumbuh antara 10% sampai dengan 12%. (Bisnis Indonesia)

·         Harga daging sapi masih tinggi, rata-rata daging sapi lokal dijual Rp 120.000/kg di Pasar Minggu. Harga tersebut mahal karena pasokan yang kurang. (Detik)

·         Kepala Divisi Niaga PLN, Benny Marbun mengatakan, ketika subsidi listrik dicabut, maka tagihan ke pelanggan akan naik sekitar Rp 110.000/bulan. (Detik)

Dollar masih kuat, komoditas mulai lemah. Dollar index terus menguat, tidak hanya akibat meningginya harapan kenaikan FFR target di akhir tahun tetapi juga akibat meningkatnya harapan atas laju kenaikannya pada 2017 yang dipicu oleh perubahan peta politik AS yang diperkirakan lebih ekspansif pada kebijakan fiskal. Di sisi lain transisi dana dari obligasi ke saham masih terlihat sejalan dengan kenaikan imbal hasil US Treasury dan tren penguatan S&P 500. Sementara itu, harga komoditas non-minyak mulai turun mengikuti tren pelemahan harga minyak yang telah lebih dulu muncul.

Inflasi berpeluang naik, tekanan depresiasi belum usai. Tren kenaikan inflasi diperkirakan berlanjut berdasarkan survei BI di minggu ke 3 Nov16 sehingga bisa mempertahankan sentimen negatif di pasar SUN serta rupiah. Rupiah sendiri masih terbawa sentimen penguatan dollar serta pelemahan harga komoditas di pasar global bersamaan dengan pelemahan kurs lain di Asia. Awal minggu ini tekanan pelemahan rupiah bisa bertahan tetapi kehadiran BI di pasar valas diperkirakan bisa mengurangi peluang depresiasi terlalu tajam.

Riset Ekonomi Harian
Rangga Cipta – Economist

Facebook Comments