Bahkan Talenta Pun Butuh Kerja Keras

0
798

Seberapa banyak nama yang akan muncul di kepala kita saat menyebut nama dosen. Satu, dua, atau mungkin tiga. Yang pasti, dosen-dosen yang masuk dalam kategori kita ingat, bahkan hingga bertahun-tahun meninggalkan bangku kuliah adalah dosen yang memiliki ciri khas tertentu. Bisa super killer, namun bisa juga sangat cantik sehingga membuat betah mengikuti kelasnya.

Nah, bagi mahasiswa jurusan Sejarah Universitas Nasional Cherkassy, Ukraina, jika mereka ditanya sepuluh atau dua puluh tahun lagi, siapa dosen yang paling mereka ingat. Mungkin jawabannya adalah Vitaly Nechaev. Bukan, nama itu bukanlah seorang professor di bidang sejarah, apalagi pelaku sejarah Ukraina saat memisahkan diri dari Uni Soviet. Dia hanyalah bocah berusia 9 tahun, yang memiliki kecerdasan dan ingatan super tentang sejarah negeri itu. Tak heran jika kemudian, Nechaev diundang oleh kampus setempat untuk berbagi ilmunya. Berdiri di atas kursi (karena dia masih pendek dan tetap ingin melihat mahasiswanya), dengan percaya diri bocah itu memberi pelajaran kepada orang yang secara usia berkali lipat dibandingkan dirinya.
Apakah itu bisa disebut talenta atau keberuntungan? Bisa jadi. Namun, bisa juga tidak.*

Memulai karir sebagai seniman jalanan tidak lantas membuat Eko Nugroho terpaku menerima nasibnya. Perupa asal Jogjakarta itu tetap berusaha mengejar mimpi dengan memperbaiki setiap kualitas benda seni yang dia hasilkan. Tidak instan memang, namun perjuangan Eko mulai dan sudah menghasilkan prestasi besar. Tak hanya bagi dirinya sendiri, namun juga bagi negeri ini. Betapa tidak? Lewat karyanya, pada tahun 2013 silam, Eko digandeng oleh rumah mode ternama, Louis Vuitton, untuk mendesain koleksi scarf brand asal Perancis itu. Kabarnya, creative director Louis Vuitton, Marc Jacobs –sebelum digantikan oleh Nicolas Ghesquiere- sendiri yang memilih rancangan itu. Bernama the giant square, perupa yang belum genap berusia 37 tahun ini berusaha memindahkan keanekaragaman negerinya ke dalam lembar kain. Hasilnya, cukup luar biasa. Ketika promosi secara global usai dirilis dengan menampilkan model papan atas Liu Wen, hasil karyanya yang diperuntukkan untuk koleksi fall winter 2013/14 itu langsung menyedot perhatian fashionista dunia. Berani, full colors, danout ouf the box. Demikian review dari beberapa pengamat mode tentang hasil karya Eko itu. Atas prestasinya tersebut, nama Eko kini sejajar dengan perupa dunia lainnya yang terlebih dahulu bekerja sama dengan brand itu. Sebut saja Takashi Murakami, Stephen Sprouse, Andree Putman, Sol Lewitt, Yayoi Kuzama, dan Richard Prince.
Apakah itu bisa disebut talenta atau keberuntungan? Bisa jadi. Namun, bisa juga tidak.*

Dari dua contoh kehidupan yang amat berbeda di atas sebenarnya bisa diambil kesimpulan. Bahwa talenta atau keberuntungan tentu saja dan bisa jadi selalu menaungi diri setiap manusia. Tapi tidak kalah penting, apakah makhluk bernama manusia itu mau untuk mengasah talenta luar biasa yang menjadi anugerah. Caranya tentu dengan kerja. Jika tidak cukup, ya, kerja. kerja. kerja.

Sebab, berdasar penuturan ibunda Nechaev, dirinya pernah khawatir karena hingga usia 3 tahun, sang buah hati tidak bisa juga bicara lancar. Naluri sang ibu menuntunnya untuk mengajak Nechaev banyak membaca buku. Ternyata itu keterusan dan menjadi hobi dari sang anak. Sehingga tak heran, kemampuannya terus terasah seiring makin banyaknya buku yang dia lahap.

Begitu juga Eko, tawaran dari LV (sebutan terkenal brand yang sudah terkenal itu) tentu tidak datang tiba-tiba. Semuanya butuh proses dan jalan yang cukup panjang. Yang luar biasa, ini bukanlah kerja sama Eko yang pertama dengan brand tersebut. Dan, semuanya berujung sukses. Bahkan, info dari seorang rekan kolektor LV , untuk mencari karya yang memang limited edition itu, mereka harus rela masuk daftar waiting list.

Lantas, bagi Joko Widodo yang lebih dari setahun memimpin negeri ini, apakah talenta atau keberuntungan? Bisa jadi. Namun, bisa juga tidak. Jokowi memang memiliki talenta memimpin. Lihat saja bagaimana ia sukses mengembangkan bisnis meubelnya. Atau lihat juga bagaimana kota Solo menjadi lebih indah saat dia pimpin.

Tapi tentu, keberuntungan juga menjadi faktor penting. Menjadi presiden bagi negara sebesar Indonesia sangat tidak mudah. Banyak pihak yang sudah mempersiapkan selama bertahun-tahun untuk posisi itu. Tapi nyatanya, catatan sejarah belum berpihak. Bahkan, ada yang sudah beberapa kali kalah, tetap saja mencoba tanpa putus asa. Ada pula yang sampai bela-belain menyamar menjadi supir andong dan kernet bis demi meraih simpati. Tapi, lagi-lagi, sumpah jabatan tak jua terucap.

Lantas keberuntungan mana yang diingkari oleh Presiden ke 7 ini? Tidak sampai hitungan tiga tahun, posisinya yang semula Wali Kota naik menjadi Gubernur, kemudian naik lagi menjadi Presiden.

Cuma, seperti Eko dan Nechaev, talenta ataupun keberuntungan tentu tak cukup mengantarkan namanya menjadi simbol kesuksesan. Diperlukan kerja nyata bukan sekadar slogan. Apalagi kalau slogannya saja copy paste, tentu lebih bahaya.

Lebih baik membuat slogan baru seperti “kerja nyata” bukan “kerja.. kerja.. kerja” yang nyatanya memang belum bisa mengikuti speed dari pemilik slogan aslinya.

Atau tidak usah pula memiliki slogan nawacita, kalau mewujudkan cita-cita generasi penerus di Sumatera dan Kalimantan yang harus berhenti sekolah sejenak karena asap saja tidak mampu.

“Selamat menjabat Presiden RI Pak Joko Widodo”

Artikel ini ditulis pada 14 Juli 2016 di cepamagz.com
Oleh:
Panji Dwi Anggara
Pemerhati Komunikasi Media, Konsultan, dan Jurnalis

Facebook Comments