Berbagai Hikmah Idul Fitri 1438 H di Indonesia

0
437
Muhammad Quraish Shihab

Pembuka dan pengantar cepagram.com tentang Idul Fitri 1438 H:

Dari Syu’bah bin Al-Hajjaj, ia berkata, “Saya bertemu dengan Yunus bin Ubaid, dan saya sampaikan, ‘Taqabbalallahu minna wa minka.’ Kemudian ia menjawab dengan ucapan yang sama.” (HR. Ad-Daruquthni dalam Ad Du’a)

Demikianlah jawaban sahabat dan salafus shalih, ketika mendapatkan ucapan taqabbalallahu minna wa minkum. Jawaban ini seperti perintah Allah dalam Al Qur’an,

“Jika kalian diberi salam dalam bentuk apa pun maka balaslah dengan salam yang lebih baik atau jawablah dengan yang semisal.” (QS. An Nisa’ : 86)

Idul Fitri yang dirayakan oleh umat muslim di Indonesia, bukan sekedar merayakan kemenangan umat islam setelah melaksanakan puasa Ramadhan kemudian berkunjung ke rumah sanak saudara dan kolega tapi juga tentang tradisi perayaan yang telah dilestarikan dari generasi ke generasi. Dalam kesempatan momen Idul Fitri 1438 H (tahun 2017) ini dimana issue hangat tentang Persatuan Indonesia, khususnya kerukunan antar umat beragama menjadi perhatian kita bersama. Kami akan menyajikan sejumlah berita dan artikel kegiatan serangkaian syariat ibadah Idul Fitri, seperti Sholat Ied, Khotbah dan berbagai tradisi tersebut dari berbagai desa di Indonesia. Selamat membaca!

Prof. Quraish Shihab dipilih sebagai khatib dalam salat Id di Masjid Istiqlal. Inilah beberapa cuplikan teks khotbah salat Id yang dibawakan Quraish Shihab di Masjid Istiqlal, yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden M. Jusuf Kalla:

Allah Akbar, Allah Akbar, Wa Lillahil Hamd.

Dengan takbir dan tahmid, kita melepas Ramadan yang insya Allah telah menempa hati, mengasuh jiwa serta mengasah nalar kita. Dengan takbir dan tahmid, kita melepas bulan suci dengan hati yang harus penuh harap, dengan jiwa kuat penuh optimisme, betapa pun beratnya tantangan dan sulitnya situasi. Ini karena kita menyadari bahwa Allah Maha Besar. Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Semua kecil dan ringan selama kita bersama dengan Allah. Kita bersama sebagai umat Islam dan sebagai bangsa, kendati mazhab, agama atau pandangan politik kita berbeda. Karena kita semua ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. Kita semua satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air dan kita semua telah sepakat ber-Bhineka Tunggal Ika, dan menyadari bahwa Islam, bahkan agama-agama lainnya, tidak melarang kita berkelompok dan berbeda. Yang dilarang-Nya adalah berkelompok dan berselisih.

Maksudnya: “Janganlah menjadi serupa dengan orang-orang yang berkelompok-kelompok dan berselisih dalam tujuan, setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan. Mereka itulah yang mendapatkan siksa yang pedih.” Demikian Allah berfirman dalam Q.S. Ali ‘Imran ayat 105.

Saudara, keragaman dan perbedaan adalah keniscayaan yang dikehendaki Allah untuk seluruh makhluk, termasuk manusia.

Seandainya Allah menghendaki niscaya kamu dijadikannya satu umat saja, tetapi (tidak demikian kehendak-Nya). Itu untuk menguji kamu menyangkut apa yang dianugerahkan-Nya kepada kamu. Karena itu berlomba-lombalah dalam kebajikan (Q.S. Al-Maidah ayat 48).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillahil Hamd!

Saudara, kini kita beridul fitri. Kata fithri atau fithrah berarti “asal kejadian”, “bawaan sejak lahir”. Ia adalah naluri. Fitri juga berarti “suci”, karena kita dilahirkan dalam keadaan suci bebas dari dosa. Fithrah juga berarti “agama” karena keberagamaan mengantar manusia mempertahankan kesuciannya. Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama (Islam) dalam keadaan lurus.

Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia atasnya. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.S. Ar-Rum ayat 30).

Dengan beridul fitri, kita harus sadar bahwa asal kejadian kita adalah tanah: Allah Yang membuat sebaik-baiknya segala sesuatu yang Dia ciptakan dan Dia telah memulai penciptaan manusia dari tanah. (Q.S. AsSajadah ayat 7)

Kita semua lahir, hidup dan akan kembali dikebumikan ke tanah. Dari bumi Kami menciptakan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu untuk dikuburkan dan darinya Kami akan membangkitkan kamu pada kali yang lain. (Q.S. Thaha ayat 55).

Kesadaran bahwa asal kejadian manusia dari tanah, harus mampu mengantar manusia memahami jati dirinya. Tanah berbeda dengan api yang merupakan asal kejadian iblis. Sifat tanah stabil, tidak bergejolak seperti api. Tanah menumbuhkan, tidak membakar. Tanah dibutuhkan oleh manusia, binatang dan tumbuhan — tapi api tidak dibutuhkan oleh binatang, tidak juga oleh tumbuhan. Jika demikian, manusia mestinya stabil dan konsisten, tidak bergejolak, serta selalu memberi manfaat dan menjadi andalan yang dibutuhkan oleh selainnya.

Dan selengkapnya baca di sini: teks lengkap khotbah salat Id yang dibawakan Quraish Shihab pagi ini di Istiqlal. tirto.id

Tradisi Idul Fitri di Indonesia: Lebaran Topat

Pengantar: Idul Fitri tidak hanya tentang berkunjung ke rumah sanak saudara dan kolega tapi juga tentang tradisi perayaan yang telah dilestarikan dari generasi ke generasi. Dalam beberapa artikel, kami akan menyajikan sejumlah tradisi tersebut dari berbagai desa di Indonesia.

Lebaran Topat di Lombok, yang diselenggarakan seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri, lebih semarak dan dirayakan oleh seluruh masyarakat NTB. -sinarharapan.net
Lebaran Topat di Lombok, yang diselenggarakan seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri, lebih semarak dan dirayakan oleh seluruh masyarakat NTB. -sinarharapan.net

Di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Lebaran tidak hanya dilaksanakan sekali yaitu pada tanggal 1 Syawal tapi 2 kali. Lebaran kedua dilaksanakan setelah berakhirnya puasa Syawal dan dinamakan Lebaran Ketupat atau Lebaran Topat. Kata “topat” diambil dari kata ketupat.

Lebaran Ketupat dirayakan dengan melakukan kegiatan-kegiatan ritual keagamaan diantaranya, berziarah ke makam para wali /ulama terkenal yang telah berjasa membawa agama Islam ke Lombok. Di Kota Mataram, misalnya, masyarakat akan datang ke dua tempat bersejarah, yaitu Makam Bintaro dan Makam Loang Baloq di Tanjung Karang.

Di hari Lebaran Topat, makam Loang Baloq yang berlokasi tepat di sebelah Pantai Tanjung Karang Mapak akan penuh sesak oleh peziarah sejak pukul 7 pagi. Selain memanjatkan doa, mereka juga berebutan untuk mencuci muka dan kepala dengan air di atas makam yang dianggap keramat tersebut.

Sama halnya dengan situasi yang berlangsung di Makam Bintaro, dalam ziarah kubur, para peziarah sejatinya tidak hanya memanjatkan doa kepada sang Khalik, namun juga melakukan berbagai macam ritual keagamaan dan atraksi simbolik perayaan tradisi Lebaran Ketupat misalnya, mencukur rambut bayi yang biasa disebut ngurisan. Tradisi ini diyakini akan menjadikan anak tersebut anak yang saleh dan sukses di masa yang akan datang.

Perayaan Lebaran Ketupat juga menjadi haul bagi mereka yang telah mencapai kesuksesan atau rezeki yang lebih dalam hidupnya. Untuk mensyukuri nikmat Tuhan tersebut, mereka datang dengan membawa perbekalan berupa makanan berupa ketupat, pelalah ayam, daging, opor telur, pakis, paku, urap-urap, dan pelecing kangkung yang kemudian dimakan beramai-ramai di area halaman makam.

Setelah selesai berziarah ke Makam, para pengunjung lalu berpindah ke jalur pantai, mulai Pantai Bintaro hingga ke Pantai Tanjung Karang.

Seminggu setelah melaksanakan Lebaran Tinggi (hari raya Idul Fitri), masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat, mengadakan Lebaran Topat (hari raya ketupat). Lebaran Topat merupakan penutup dari pelaksanaan puasa Sunnah Syawal yang dilaksanakan sejak tanggal 2 sampai 7 Syawal.

Dalan masyarakat Lombok, Lebaran Topat juga dikenal dengan sebutan Lebaran Nine (lebaran wanita). Lebaran Nine pada hari raya ketupat merupakan cara masyarakat Lombok untuk membedakan dengan Lebaran yang diadakan setelah berpuasa di bulan Ramadan atau dikenal juga dengan Lebaran Mame (lebaran pria).

Di Lombok, walaupun puasa Syawal merupakan puasa Sunnah, banyak orang terutama yang berusia 40 tahun ke atas, baik laki-laki maupun perempuan termasuk kaum pemuda, yang berpuasa. Sedangkan, kaum ibu yang berhalangan di bulan Ramadan mengganti puasanya di awal bulan Syawal, karena pahalanya akan berlipat ganda.

Oleh karena banyak masyarakat Lombok yang melakukan puasa SUnnah, sekitar pukul 3 pagi WITA, banyak masjid yang secara rutin tetap mengingatkan masyarakat lewat pengeras suara masjid, untuk sahur.

Setelah 6 hari berpuasa SUnnah, masyarakat merayakannya dengan menyelenggarakan Lebaran Topat.

Dapat disimpulkan bawah yang merayakan Lebaran Topat adalah mereka yang berpuasa Sunnah.

Seiring dengan berjalannya waktu, Lebaran Topat tidak hanya dilakukan oleh mereka yang berpuasa tapi oleh semua masyarakat Lombok. Lebaran Topat juga tidak lagi dianggap eksklusif. Dia menjelma sebagai tradisi baru masyarakat Lombok. sinarharapan.net
_______

Seusai Salat Idul Fitri, Jokowi dan JK Open House di Istana

Presiden dan Ibu Iriana Joko Widodo di Istana Negara. - image (beritasatu.com)
Presiden dan Ibu Iriana Joko Widodo di Istana Negara. – image (beritasatu.com)

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H – Taqabbalallahu Minna Wa Minkum

Khotbah Quraish Shihab di Salat Idul Fitri 1438 H dan Kecerdikan Jokowi Memilih Lebaran di Jakarta

Makna Idul Fitri 1438 H Bagi Menhub Budi Karya

Asal Mula Hari Raya Idul Fitri

Masjid di Cipinang, Jalani Salat Id Hari Ini

Jamaah Masjid Ghairu Jami Baitur Rahman yang terletak di Jalan Kesadaran, Cipinang Muara, Jakarta baru melaksanakan salat Idul Fitri hari ini (Desinta/JawaPos.com)
Jamaah Masjid Ghairu Jami Baitur Rahman yang terletak di Jalan Kesadaran, Cipinang Muara, Jakarta baru melaksanakan salat Idul Fitri hari ini (Desinta/JawaPos.com)

idul-fitri-1030x534

M. Yusuf Alfarouq
M. Yusuf Alfarouq – editor & kontributor cepagram.com
Facebook Comments