Catatan Industri Konstruksi Nasional 2017

0
619
Wika Beton

Pasar jasa konstruksi Indonesia terbesar di ASEAN

Terus menggeber pembangunan infrastruktur menjadikan Indonesia sebagai pangsa pasar jasa konstruksi terbesar di ASEAN. Di dunia, pasar konstruksi Indonesia terbesar keempat.
Dari data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), China menjadi yang paling terbesar di mana pangsa pasar jasa konstruksinya memiliki potensi senilai US$ 1,78 triliun.Disusul oleh pasar konstruksi Jepang senilai US$ 742 miliar. Kemudian India US$ 427 miliar, dan Indonesia senilai US$ 267 miliar.

Potensi yang dimiliki Indonesia jauh mengungguli negara kawasan ASEAN seperti Malaysia yang hanya miliki potensi senilai US$ 32 miliar. Sementara Singapura senilai US$ 24 miliar.
Memanfaatkan potensi tersebut Direktur Jenderal Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Syarif Burhanuddin bilang, agar Badan Usaha Jasa Konstruksi berperan aktif. kontan.co.id Kamis, 07 Desember 2017

BUMN konstruksi mengurangi order proyek swasta

Maraknya pembangunan infrastruktur oleh pemerintah turut mengubah komposisi perolehan kontrak baru emiten konstruksi pelat merah. Kini, porsi kontrak dari proyek swasta cenderung mengecil.

PT Adhi Karya Tbk (ADHI) misalnya. Hingga September 2017, ADHI memperoleh kontrak baru Rp 30 triliun. Dari nilai itu, porsi proyek pemerintah mencapai 76,9% dan proyek BUMN sebesar 11,4%. Sementara itu, porsi dari proyek swasta hanya 11,7%. Padahal, di periode yang sama tahun lalu, total kontrak baru ADHI dari swasta mencapai 25%. Sedangkan perolehan kontrak dari pemerintah dan BUMN masing-masing sebesar 33,8% dan 41,3%. kontan.co.id Rabu, 01 November 2017

Sektor Konstruksi Penyumbang Ketiga Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Sektor konstruksi menempati posisi ketiga sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia sepanjang 2016, dengan kontribusi 0,51 persen setelah sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia pada tahun 2016 tumbuh sebesar 5,02 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun 2015 yang mencapai 4,88 persen.- Kompas.com – 10/02/2017

Saham BUMN konstruksi ambruk

Harga mayoritas saham emiten konstruksi ambruk. Isu seretnya likuiditas keuangan turut membayangi kejatuhan saham sektor konstruksi, terutama emiten konstruksi BUMN.

Harga saham Waskita Karya (WSKT), misalnya, sudah rontok 10,43% dalam tiga hari terakhir menjadi Rp 1.950 per saham. Selama sepekan terakhir, saham PT PP (PTPP) dan Adhi Karya (ADHI) juga anjlok masing-masing sedalam 8,79% dan 10,29%. kontan-Rabu, 06 Desember 2017

Saham BUMN Konstruksi Berpeluang Menguat pada 2018

Ini Alasan Pemerintah Jokowi Ngotot Bentuk 6 Induk Usaha BUMN

Selepas pendirian induk usaha (holding) Badan Usaha Milik Negara Tambang, pemerintah Joko Widodo (Jokowi) berupaya mengejar pembentukan 5 holding sektoral lain, yakni holding BUMN migas, perbankan dan jasa keuangan, konstruksi dan jalan tol, perumahan, serta pangan.

“Pembentukan holding bertujuan untuk membuat BUMN besar, kuat, dan lincah sehingga BUMN bisa melayani masyarakat lebih baik,” kata Staf Khusus Menteri BUMN, Wianda Pusponegoro di Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, Selasa (5/12/2017).

Dia menjelaskan, pembentukan holding BUMN migas antara PT PGN Tbk dan PT Pertamina Gas (Pertagas) karena melihat kebutuhan gas diproyeksikan 5 kali lipat di 2050, ketergantungan pada impor gas, harga gas yang relatif tinggi, dan ketidakseimbangan sumber gas. liputan6.com 05 Des 2017

Jokowi Gencar Bangun Infrastruktur, Pasar Konstruksi Booming

Kebangkitan Konstruksi

Industri jasa konstruksi mengalami pertumbuhan signifikan sekitar 30% selama tiga tahun terakhir. Pertumbuhan itu menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap pelaku industri konstruksi meningkat.

“(Industri) konstruksi kita tumbuh, nilai kontraktor dari menengah ke besar sekitar 30% selama 3 tahun belakangan,” kata Direktur Jenderal Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Yusid Toyib seusai Sosialisasi UU Jasa Konstruksi di kantornya, Kamis, 9 Maret 2017.

Yusid mengatakan, tren industri konstruksi nasional terbukti merangkak naik. Dari 200 badan yang ditargetkan naik kelas dari kontraktor menengah ke besar hingga tahun 2019, ternyata kini sudah mencapai sekitar 70%.

Dia meyakini, target pemerintah tersebut akan terpenuhi dalam dua tahun ke depan. “Kita dorong karena kita punya daya saing karena paket kita kan banyak yang besar, 70% tercapai dari 200 badan usaha,” ujarnya.

Sayangnya, ungkap Yusid, saat ini kontraktor domestik sulit mendapatkan pekerjaan di luar negeri. Dengan demikian, pertumbuhan industri konstruksi pun lebih didominasi kontribusi dari dalam negeri.

Dia menilai, penurunan pekerjaan di luar negeri merupakan imbas dari perlambatan perekonomian global. Sebaliknya, perusahaan asing malah melirik Indonesia untuk mendirikan tempat usaha lantaran pertumbuhan ekonomi nasional dianggap lebih baik.

“Kontaktor besar yang bisa bersaing dengan internasional di mana pun di dunia itu kecil. Oleh karena itu, kita targetkan lima tahun ke depan kontraktor besar sekitar 200 badan usaha menjadi besar,” ujarnya.*** pikiran-rakyat.com  9 Maret, 2017

koleksi cepagram.com

Facebook Comments