Transformasi Menuju Istaka Jaya

0
225
Sigit Winarto - Dirut Istaka Karya

Pegalaman pahit tidak membuat PT Istaka Karya (Persero) lemah. Malah justru sebaliknya, pengalaman tidak sedap yang pernah menimpanya itu, dijadikan sebagai tonggak perubahan manajemen perusahaan milik pemerintah ini. Mereka optimis menjadi perusahaan yang kokoh, terpercaya dan gemilang di bidang industri konstruksi Indonesia

sigit-winarto-ik Jika Tuhan YME berkehendak, apapun bisa terjadi. Ibarat sudah dimasukkan ke kamar mayat, di luar dugaan bisa hidup lagi. Kun Fayakun, yang terjadi, maka terjadilah. Kira-kira begitulah alur gambaran kisah yang pernah menyelimuti PT Istaka Karya. Perusahaan plat merah yang sebelumnya dinyatakan pailit oleh para debitornya, siapa sangka malah bisa beroperasi kembali. PT Istaka Karya yang dikomandani Ir. Sigit Winarto, M.T., selaku Direktur Utama, mampu melepaskan diri dari berbagai masalah rumit yang sempat melilitnya.

Belajar dari pengalaman pahit yang pernah menyambanginya itu, sejak Juli 2017 PT Istaka Karya mengembangkan konsep perubahan di dalam tubuhnya. Langkah ini harus segera mereka lakukan, karena dewi keberuntungan tidak akan pernah hadir dua kali.

Langkah perubahan itu mereka sebut Transformasi Istaka. Transformasi di sini adalah melakukan proses perubahan secara bertahap untuk bisa mencapai semua unsur yang dikehendaki. Perubahan yang dilakukan dengan cara memberi respons terhadap pengaruh unsur eksternal dan internal yang akan mengarahkan perubahan dari bentuk yang sudah dikenal sebelumnya melalui sebuah proses. Dengan demikian, diyakini mampu melahirkan wajah baru PT Istaka Karya (new concept & new spirit Istaka) sebagai perusahaan yang maju di bidang industri konstruksi di Indonesia, serta mampu menggapai visi dan misi yang mereka emban, yaitu mampu mewujudkan sebagai perusahaan yang kokoh dan terpercaya.

Unsur visi dan misi ini tak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Keduanya harus berjalan selaras agar mampu mewujudkan perusahaan sebagai pencetak laba dan agen pembangunan di Indonesia melalui berbagai produk yang berkualitas.

“Tanpa transformasi, saya kira Istaka Karya tidak akan mampu bangkit, maju dan berkembang,” tegas Direktur Utama PT Istaka Karya Ir. Sigit Winarto, M.T.

Sigit Winarto - Dirut Istaka KaryaDiakui pria kelahiran Jakarta 1968 itu dalam melakukan transformasi tersebut ada tiga bidang yang menjadi target atau sasaran. Pertama, transformasi untuk sistem produksi. Kedua, transformasi untuk sistem manajemen keuangan dan ketiga, transformasi untuk sistem manajemen Sumber Daya Manusia (SDM).

“Semua ini dilakukan secara serentak, kemudian kita bungkus dalam visi dan misi Istaka Karya dan sebagai budaya perusahaan yang baru”,

Dengan kebangkitan baru ini, diyakini tidak akan ada lagi celah keraguan yang menutup ruang eksistensi PT Istaka Karya. Sekarang, dari sisi teknologi konstruksi mereka mengembangkan konsep informasi teknologi terbaru, memanfaatkan internet dan media penyebaran informasi lainnya.

” Dari sisi permodalan pun tidak perlu diragukan lagi. PT Istaka Karya saat ini memiliki modal cukup secara terus menerus, serta memperkuat permodalan untuk mendukung pendanaan proyek sesuai dengan gridnya, baik modal sendiri, pinjaman dari bank maupun bantuan rekanan dan investor perusahaan “,

Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) perusahaan, mayoritas kontraktor memiliki pengalaman perusahaan di atas 5 tahun dengan pagu miliaran dan keahlian kontraktor dalam infastruktur serta transportasi.

Kemampuan SDM perusahaan pada dasarnya adalah unsur terpenting dari keseluruhan kemampuan perusahaan untuk berkembang. Transformasi SDM ini posisinya sangat menentukan. Perubahan dari sisi ini diyakini mampu membentuk insan Istaka Karya yang berkarakter unggul, punya komunikasi baik, kapasitas dan etos kerja mumpuni, punya karakter yang baik serta berorientasi pada kepuasan pelanggan.

“Itu kita kembangkan sejak pertama kali tugas di sini. Dan alhamdulillah seluruh program dari SDM Istaka Karya sudah rampung pada saat ulang tahun kami pada 11 April kemarin dan sekarang sedang dalam tahap implementasi,” tegas Sigit Winarto.

istaka-karya-logo

” Sekali lagi, sumber daya manusia atau perusahaan merupakan unsur yang terpenting dalam perubahan ini, karena seluruh kemajuan perusahaan bertumpu pada sumber daya yang unggul “‘

Memang, diakui alumnus Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret Surakarta, tahun 1993 ini, tidak mudah dan membutuhkan waktu yang cukup lama dalam mengembangkan konsep perubahan pada sektor sumber daya manusia. Tapi mau tidak mau, suka atau tidak suka jika ingin maju, langkah tersebut harus ditempuh apapun konsekuensinya.

Sehingga setiap orang yang menjalin kerja sama dengan PT Istaka karya, mereka akan menjatuhkan penilaian bahwa setiap insan di perusahaan ini memiliki karakter yang kuat dan tata nilai khusus. Tata nilai yang saat ini tengah dikembangkan perusahaan harus mengembangkan integritas, customer fokus dan daya juang.

“Tidak Pantang menyerah dan selalu melakukan upaya perbaikan. Saya kira dengan membentuk perilaku itu dalam waktu singkat kami yakin mampu bersaing dengan BUMN lainnya,” tegas Sigit yakin.

istaka-karya-image-3
Cikampek Palimanan Toll Road (Kalijati Interchange) Project

Arah Pengembangan
Menurut Sigit, untuk dapat menciptakan iklim kerja yang dapat menyatukan seluruh insan Istaka Karya pada kepatuhan dan kepedulian terhadap nilai-nilai moral dan etika, semua benarbenar dipersiapkan secara matang. Seluruh kelengkapan organ perusahaan yang terdiri dari Dewan Komisaris, struktur organisasi yang mencakup Direksi serta segenap personil perusahaan merupakan pihak-pihak yang terkait satu sama lain, semua diarahkan dalam proses penciptaan penyelenggaraan bisnis secara sehat dan beretika.

Oleh karenanya, perusahaan mewajibkan seluruh insan Istaka untuk mematuhi semua ketentuan hukum, peraturan perundang-undangan dan seluruh ketentuan perusahaan yang berlaku. Dan yang tidak kalah pentingnya, para insan Istaka ini diwajibkan untuk sungguhsungguh memahami dan berperilaku sesuai dengan panduan perilaku perusahaan dalam berinteraksi atau berhubungan dengan stakeholders.

Istaka Karya 2018-02-15-photo-00000307

”Dengan mematuhi hukum dan ketentuan perusahaan serta menjalankan etika yang baik, maka dalam waktu dekat dan jangka panjang, saya yakin akan meningkatkan nilai dan keberhasilan insan Istaka sekaligus meningkatkan citra perusahaan di tengah-tengah masyarakat dan dunia usaha,” ujar peraih Master Teknik tahun 2006, Universitas Tarumanegara, Jakarta itu.

Untuk dapat terus diterima dalam pasar yang semakin kompetitif, pengelolaan perusahaan tidak lepas dari aturan main yang berlaku di pasar, baik aturan hukum yang dikeluarkan oleh pemerintah maupun aturan-aturan moral dan etika yang telah terbentuk di masyarakat atau dibangun sendiri oleh perusahaan. Dengan demikian, pengelolaan perusahaan dituntut untuk tidak hanya mementingkan faktor yang bersifat ekonomis semata, namun juga mengarahkan dan mempertimbangkan hal-hal yang bersifat non ekonomis seperti nilai-nilai etika, budaya dan perilaku lingkungan perusahaan.

Arah pengembangan PT Istaka Karya ke depan dikonsentrasikan pada bisnis utama yakni jasa konstruksi sebagai andalan, sedangkan usaha derivatif bersifat usaha penunjang jasa konstruksi. Dengan semakin tingginya tingkat persaingan usaha dunia konstruksi, kita mesti memiliki kemampuan bersaing. Hal ini juga penting dilakukan agar dapat mempertahankan keberhasilan komersial dengan memberikan pelayanan yang optimal bagi para pelanggan melalui penyediaan produk-produk konstruksi yang berkualitas tinggi dengan harga yang bersaing.

Maka dari itu, kata Sigit, seluruh komponen perusahaan harus memahami betul arah untuk bagaimana menjaga reputasi yang sudah baik di masa lalu. Jika komitmen ini dijaga dan dilaksanakan sebaik-baiknya secara paralel dan berkesinambungan, perusahaan ini akan terus berkembang, dengan mengadopsi keahlian yang sudah ada dan pengembangan keahlian sesuai dengan perkembangan zaman. Semua itu berjalan sesuai portofolio jenis proyek, portofolio jenis owner dan portofolio secara kewilayahan yang juga harus dikembangkan.

istaka-karya-image-2

Reputasi Sangat Baik
Jika ditinjau dari sejarah yang menyelimutinya dan sepak terjang yang pernah dilakukan, tidak dipungkiri, PT Istaka Karya memiliki produk unggulan yang tidak kalah dengan produk dari perusahan-perusahaan lainnya. Nama PT Istaka Karya pernah berkibar melalui sejumlah proyek pengerjaan infrastruktur jalan, khususnya dalam pembuatan jalan raya, jalan tol, jembatan dan dermaga. “Dan untuk pembuatan infrastruktur ini, kita masih memiliki reputasi yang sangat baik,” kata Sigit bangga.

” Maka dari itu, untuk mengulang kegemilangan yang pernah diraih, filosofi penguasaan teknologi merupakan harga mati yang sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi oleh seluruh insan Istaka karya. Mereka didorong untuk maju dan menguasai teknologi. Jika perusahaan mau maju, penguasaan teknologi harus dikuasi sebaik-baiknya “,

Berbagai usulan atau rekomendasi untuk menaikan kapasitas dari masing-masing personil terus dikembangkan untuk kemudian diselaraskan dengan program peningkatan dari SDM yang ada di Istaka Karya.

Selain itu, langkah yang saat ini tengah dirintis dan dilakukan adalah menumbuhkembangkan minat untuk menguasai teknologi. Sebagai contoh, waktu HUT Istaka Karya beberapa waktu lalu, pihak perusahaan mengadakan lomba karya tulis yang menitikberatkan inovasi untuk melaksanakan proyek di lapangan. Hasilnya, ada 16 karya tulis yang memilki kualitas terbaik.

“Memang masih sedikit, tapi kita harapkan ini upaya untuk memulai minat seluruh staf Istaka Karya untuk maju dan menguasai teknologi,” imbuh Sigit.

istaka-karya-image-5
Pembangunan Flyover Cipinang – Lontar, Jakarta

Di sisi lain, Istaka Karya juga tengah mengembangkan proses kemitraan melalui Supply Chain Manajemen Sistem. Artinya, teknologi salah satu cara transformasi yang lebih cepat adalah dengan memastikan mitra Istaka Karya memiliki teknologi yang sesuai dengan spesialisasinya, contoh untuk alat-alat berat dan metode pelaksanaan lainnya. Hal ini juga sangat penting, sebab jika tidak mereka kuasai, tentu memiliki implikasi yang kurang baik bagi perusahaan.

Kemajuan teknologi, proses pelaksanaan dan bahan konstruksi sendiri, juga bertumpu pada pengetahuan yang dimiliki mitra kerja Istaka Karya. Sehingga transfer teknologinya relatif jauh lebih cepat. Tidak melulu kita harus di kelas studi penelitian, karena kita sebagai jasa konstruksi banyak membutuhkan teknologi terapan untuk pelaksanaan di lapangan.

“Artinya dari ketiga unsur tadi menjadi cukup penting ketika mitra kami membawa teknologi yang lebih update bisa kerja sama dengan kita, kemudian di lapangan bisa transfer knowledge, yang secara tidak langsung juga Istaka Karya akan dimiliki atau dikuasai Istaka Karya,” ujar Sigit.
sigit-w-2

Anda pasti sering mendengar ungkapan yang mengatakan bahwa kepercayaan itu mahal harganya. Kepercayaan -dari siapapun itu- adalah sebuah amanah yang harus dijaga dengan sepenuh hati dan tidak boleh dikhianati.

Namun sebagai manusia kadang tidak mudah untuk menjaga rasa percaya yang telah diberikan. Ada saja godaan untuk melanggar kepercayaan, baik itu demi kepentingan pribadi maupun orang lain. Dalam perjalanan panjang suatu perusahaan, bisa terjadi peristiwa-peristiwa yang menyebabkan berkurangnya atau bahkan lunturnya kepercayaan pelanggan terhadap kita.

Jika memang demikian, memulihkan kembali rasa percaya yang telah hilang sungguh sangat tidak mudah. Diperlukan proses secara bertahap dan kadang dibutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit agar kepercayaan yang pernah diberikan bisa pulih kembali.

Suasana hati seperti itulah yang mungkin dirasakan jajaran PT Istaka Karya (Persero). Pahitnya peristiwa kelam di masa lalu harus dibayar sangat mahal. Tidaklah mudah memulihkan kepercayaan dari seluruh stakeholder, terkait bisnis atau operasional mereka. Istaka Karya, pada saat itu, juga sulit meyakini bahwa tugas dan tanggungjawab yang dibebankan kepada mereka mampu diselesaikan sebaik-baiknya. Jadi persoalan yang dihadapi memang cukup kompleks.

Tapi apapun itu, predikat terbaik yang dulu pernah berkibar, harus kembali ditegakkan. Penilaian dengan reputasi terbaik, orang-orangnya berkarakter dan bisa dipercaya serta mampu menghasilkan produk yang berkualitas, harus kembali direbut oleh seluruh jajaran PT Istaka Karya.

“Kita harus buktikan dengan kinerja dan berbagai upaya positif. Termasuk juga para mitra dan pihak ketiga yang selama ini merasa sulit sekali bekerja sama dengan Istaka terkait dengan pembayaran proses kerja dan lain sebagainya,” ujar Direktur Utama PT Istaka Karya (Persero) Ir. Sigit Winarto, M.T.

istaka-karya-image-4
Pembangunan Proyek Jalan Layang Kapten Tendean – Blok M-Cileduk paket Kostrad

Yang jelas bagi Sigit, langkah strategis pokok dalam menghadapi tantangan adalah memulihkan kepercayaan dulu. Selain itu, tantangannya adalah bagaimana manajemen mampu menjalankan Istaka Karya dari seluruh aspek bidang dengan sebaik-baiknya sesuai tujuan yang sudah ditetapkan dan jangka waktu yang diprogramkan yang sudah ditentukan. Untuk itu disusun langkahlangkah perbaikan kinerja, berupa program transformasi. Karena tanpa menjalankan transformasi secara mendasar, diyakini bahwa Istaka Karya dipastikan tidak akan pernah bisa maju.

Di tahun 2018 ini, fokus bidikan PT Istaka Karya adalah pembangunan infrastruktur di Indonesia. Semuanya secara bertahap sudah dituangkan ke dalam RPCM RJMP maupun RCPP RJPP. Untuk tahun ini Istaka Karya mengedepankan pembangunan infrastruktur berbasis pada kompetensi utamanya sambil menyiapkan lini bisnis lainnya.

“Artinya kita juga tetap mengembangkan Istaka di bisnis lain yang akan kita mulai di 2019. Jadi untuk 2018, strategi kita adalah ekspansi pada portofolio jenis proyek baru. Kedua adalah protofolio owner yang relatif belum pernah menjalin kerja sama dengan Istaka Karya. Contoh beberapa perusahaan energi yang belum pernah bertemu dengan Istaka saya kembangkan kerja sama untuk bisa terlibat dalam pembangunan energi lainnya. Kemudian BUMN-BUMN pelanggan-pelanggan lain yang memang selama ini belum dijalin kerja sama, pada akhirnya akan dikembangkan. Kemudian hal yang tidak kalah pentingnya, kami gencar mendorong sinergi BUMN,” katanya.

Momentum pemerintah tengah menggenjot pembangunan infrastruktur harus mampu dimanfaatkan Istaka Karya untuk maju dan berkembang. Artinya, dengan berbagai perubahan manajemen atau penyiapan dari sumber daya manusia saat ini, Istaka Karya menyatakan siap untuk terlibat dalam seluruh program pembangunan infrastruktur yang tengah menjadi perhatian pemerintah. Istaka Karya siap untuk bekerja dengan baik. Siap mendeliver tugas sesuai dengan kemampuannya secara profesional, efektif dan efisien. Bahkan, Istaka Karya juga menyatakan kesiapannya untuk bertugas di seluruh area Indonesia.

Mereka yakin dan mampu mewujudkan produk andal dan berkualitas. Namun, mengingat kapasitas Istaka Karya yang memang belum sekuat BUMN karya lain, Mereka juga didorong untuk lebih melibatkan diri dalam program BUMN, seperti bersinergi dalam mendukung sebagian proyek yang dikerjakan BUMN karya yang besar-besar. Contohnya, pembangunan jalan tol dan jembatan di wilayah Sumatera.

” Kita ingin pastikan seluruh pelanggan puas. Itu cita-cita kita. Kalau persoalan ukuran pekerjaan dan lain sebagainya, saya pikir hampir mirip dengan BUMN ‘‘ lain yang sudah besar “,

istaka-karya-image-7
Pembangunan Jembatan ruas Habema – Mugi, Papua

Target
Pemerintah banyak menugaskan hampir seluruh BUMN karya yang memiliki nama besar dalam sejumlah proyek infrastruktur di sejumlah wilayah. Istaka Karya, menurut Sigit berharap diberikan penugasan pembangunan infrastruktur di wilayah perbatasan atau meminjam istilahnya pemerintah, pembangunan di daerah pinggiran.

Harapan itu tidak semata-mata muncul, tapi berbekal dari pengalaman-pengalaman yang sudah pernah dilakukan Istaka Karya. Satu di antaranya, di tahun 2016, Istaka Karya dipercaya pemerintah untuk membangun jembatan ruas Habema– Mugi, Provinsi Papua. Dengan total 350 meter. Ada sekitar 14 jembatan. Tujuannya, membuka wilayah Papua yang sempat masih terisolasi. “Memang kapasitas kami masih mencukupi untuk hal itu,” sergah Sigit.

BUMN besar pasti dibatasi dengan batas minimun proyek kemudian sumber daya yang ada juga sudah dikerahkan semua untuk penugasan yang ada. Pekerjaan di pinggiran atau di perbatasan memang menjadi salah satu strategi untuk bisa ditugaskan. “Dan kita berharap dari pemerintah maupun pemberi tugas dapat melihat kami cukup memiliki kapasitas mengerjakan itu,” tambah Sigit yakin.

Kita berkeinginan kuat mewujudkan target tersebut bahkan melampauinya. Indikator keberhasilan adalah mampu mencapai target yang sudah ditugaskan. Secara industri kita berkeinginan eksistensi Istaka Karya kembali terlihat atau muncul di dunia konstruksi Indonesia. Kita akan turut bangga dan senang ketika ada cukup banyak proyek dalam papan logo Istaka Karya. Terlebih lagi, Istaka Karya ingin terlibat dalam pembangunan yang sedang digenjot pemerintah, untuk kemudian dilihat sebagai pemain yang memang sudah bangkit lagi di dunia konstruksi. Harapan lebih dalam lagi bisa dikenal untuk mengerjakan proyek signifikan. “Kami ingin ada pengakuan dari banyak orang bahwa Istaka Karya sebagai salah satu perusahaan BUMN sudah kembali untuk negara ini. Momentum pengakuan dari banyak orang inilah yang tengah kami nantikan upayakan,” harap Sigit.

istaka-karya-image-6
Pembangunan Dermaga Petikemas & Reklamasi Pelabuhan Bitung – Manado

Istaka Karya memendam mimpi menjadi perusahaan konstruksi Indonesia yang kompetensi utamanya membangun infrastruktur di Indonesia dengan layanan yang terbaik. “Kita ingin pastikan seluruh pelanggan puas. Itu cita-cita kita. Kalau persoalan ukuran pekerjaan dan lain sebagainya, saya pikir hampir mirip dengan BUMN lain yang sudah besar,” tambah Sigit sambil mengembangkan senyum.

majalah-trias

editor: cak Lea

Facebook Comments