Berita Ekonomi Global dan Domestik Pagi Ini

0
63
Temas Food - Jakarta

Berita Global

·      Inflasi inti di AS bulan Juni naik 2,1% (yoy) di atas konsensus analis sebesar 2% (yoy). Data tersebut mendorong pelaku pasar mengkalkulasi ulang seberapa besar penurunan tingkat suku bunga tahun ini.(Bloomberg)

·      Impor AS dari China turun 5,1% di dua pelabuhan paling ramai. Penurunan impor ini memasuki bulan kedua setelah Mei lalu. Fasilitas pelabuhan yang luas ini biasanya menghadapi puncak impor untuk persediaan penjualan musim dingin mendatang.  Baca lengkapnya di sini:

Impor AS dari China turun 5,1% di dua pelabuhan paling ramai

Berita Domestik

·         Pelemahan PMI kuartal II dikhawatirkan berlanjut pada kuartal III 2019. Bank Indonesia (BI) melaporkan Prompt Manufacturing Index (PMI)-BI triwulan II 2019 sebesar 52,66%. Angka ini tumbuh tipis dibanding triwulan I di level 52,65%. Namun, pencapaian itu tumbuh melambat jika di banding periode sama tahun lalu yang tumbuh 4,5%.  (Kontan)

·         Industri tekstil berpotensi mendorong pertumbuhan dunia usaha di kuartal III. Industri tekstil merupakan salah satu produk unggulan dunia usaha di Indonesia saat ini. Potensi industri tekstil dinilai dapat menjaga pertumbuhan dunia usaha pada kuartal III ini di tengah masih tegangnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China, juga Jepang dan Korea Selatan. (Kontan)

·         Survei BI: Kegiatan usaha membaik di kuartal II-2019. Hal ini tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 19,17%, lebih tinggi dari 8,65% pada kuartal I-2019. Peningkatan kegiatan usaha terutama terjadi pada sektor perdagangan, hotel dan restoran dan sektor industri pengolahan, didorong oleh peningkatan permintaan domestik. (Kontan)

Dollar Index melemah rupiah diperkirakan bergerak menguatDollar indeks diperkirakan turun ke level 96.9-97,0 terhadap hampir semua mata uang utama lain. Melemahnya dollar didorong oleh pernyataan Powell di hadapan kongres AS yang menyatakan bahwa hubungan antara inflasi dan pengangguran semakin menghilang selam 20 tahun terkahir yang menyebabkan tingkat suku bunga The Fed sekarang lebih tinggi dari level netral. Hal tersebut membuat data CPI (inflasi) bulan Juni sebesar 0,1% (mom) yang sesuai ekspektasi pasar tidak berdampak bagi keputusan The Fed untuk memotong suku bunga yang diperkirakan dilakukan bulan Juli. Rupiah diperkirakan melemah akibat naiknya yield UST kemarin malam akibat inflasi AS yang masih cukup tinggi tersebut. Rupiah kemungkinan melemah ke level Rp14.080/USD-Rp 14.090/USD. – samuel sekuritas

Facebook Comments