Profil: Ir. Ludy Eqbal Almuhamadi – Eqbal CEPA

0
870
EQBAL CEPA

*Artikel ini “bring to mind” mengingatkan kembali dari catatan media kunjungan jurnalis bernama Panji DA dari jppn (jawapos grup) pada saat itu, Selasa 22/07/2014 ke Markas CEPA Jln. Dewi Sartika – Cawang- Jakarta atau lima tahun silam. 

Malam kian larut. Meski tidak semacet saat jam kerja, denyut kehidupan kota metropolitan Jakarta tak juga terlelap. Tidak terkecuali kawasan di sekitar Dewi Sartika, Cawang, Selasa malam (22/7).

Jarum jam menunjuk pukul 00.45 saat pintu pagar gedung Nita Graha dibuka seorang petugas sekuriti. ’’Bapak Eqbal sudah menunggu di lantai 2. Meeting-nya baru saja selesai,’’ kata pria yang di bagian dada seragamnya tertulis bernama Ahmad.

Di ruang kerjanya, pria bernama lengkap Ir. Ludy Eqbal Almuhamadi tersebut tengah asyik menatap layar monitor komputer jinjing. Pengharum ruangan beraroma lavender yang sesekali menyemprot secara otomatis dari sebelah air conditioner (AC) tidak mampu mengalahkan lekatnya aroma asap rokok.

’’Maaf, janjiannya harus jam segini. Bagi pekerja seperti saya, waktu paling enak untuk ngobrol itu ya malem-malem,’’ jelasnya lalu menyulut sebatang rokok putih.

Memasuki ruang kerja Eqbal tak ubahnya masuk ke sebuah ministore golf. Golf bag beraneka merek beserta stik terjejer rapi. Satu televisi yang menempel dengan bracket di tembok tengah menayangkan siaran ulang turnamen British Open yang dimenangi Rory McIlroy. Di bawah TV flat itu terdapat lemari kaca yang menyimpan beraneka piala golf beserta foto-foto sang empunya ruangan bersama tokoh politik dan tokoh olahraga nasional.

Eqbal bukanlah seorang golfer profesional. Namun, kecintaannya pada olahraga ayun stik ini cukup tinggi. Bahkan, menurut dia, dari golf dirinya menemukan kehidupan sekaligus penghidupan yang menyenangkan.

Eqbal
Eqbal CEPA sedang bergaya bagai Tiger Wood

Awalnya, bagi pria yang lahir di sebuah desa kecil di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, 27 April 1966, itu, golf jauh dari jangkauannya. Setamat SMA di kota kelahiran, Eqbal merantau ke Malang untuk berkuliah di D-3 Teknik Sipil Politeknik Universitas Brawijaya Malang.

Jalan hidup ayah enam anak itu rupanya diselimuti kemujuran. Setamat kuliah, tanpa sempat menganggur lama, dia diterima sebagai karyawan di PT Wijaya Karya (Wika). Dengan penempatan pertama di Nanggroe Aceh Darussalam. ”Sembari bekerja, saya meneruskan kuliah S-1 Teknik Sipil di salah satu universitas swasta di sana” jelasnya.

Karirnya di PT Wika cukup moncer. Beberapa proyek besar sukses dia tangani. Setelah lima tahun bertugas di Aceh, dia mendapat promosi ke Medan. Tak lama, dia lagi-lagi harus kembali ke Aceh karena Wika mendapat proyek besar berupa perbaikan bandara.

”Saya ditarik lagi ke Aceh gara-gara saya bisa berbahasa Aceh. Saat itu masih ramai-ramainya GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Mungkin proyek itu membutuhkan orang yang bisa berkomunikasi dengan bahasa Aceh sekaligus menguasai teknik konstruksi,” ujarnya.

Proyek tersebut sukses di tangan Eqbal. Dia kembali mendapat promosi, kali ini ke Jakarta. Nah, di ibu kota itulah dia berkenalan dengan golf. Ini terjadi karena pekerjaan Eqbal sudah termasuk level menengah. Sehingga oleh perusahaan dia diminta belajar golf agar bisa meng-entertaint klien. ”Lobi bisnis lewat golf itu luar biasa pengaruhnya,” ungkap dia.

Ternyata, harapan dan kepercayaan perusahaan dia jawab dengan baik. Apalagi, sejak dia menekuni golf, jumlah kliennya terus meningkat. Proyek yang didapat pun termasuk proyek dalam skala besar. Tak heran, pada 2000 dia mendapat promosi lagi, yakni diangkat sebagai kepala cabang Wika di Riau. ”Waktu itu usia saya baru 34 tahun. Alhamdulillah, saat diangkat, saya menjadi kepala cabang termuda perusahaan BUMN,” ucapnya.

Di Riau kecintaannya pada golf semakin menjadi-jadi. Apalagi sejak dia berkenalan dengan para pejabat dan tokoh masyarakat seperti Jenderal (Pur) Ito Sumardi (mantan Kabareskrim) yang kala itu menjadi Kapolda Riau dan Jenderal Sutarman (kini Kapolri) yang menjadi Kapolda Kepulauan Riau. ”Beliau-beliau itu senang golf. Terutama Pak Ito. Makanya, di kepengurusan klub kami, beliau kami daulat menjadi pembina,” jelasnya.

eqbal-dan-ito-s
Eqbal & Ito Sumardi – The Second CEPA Anniversary 2014, Royale Jakarta GC

Di tengah karirnya yang sedang menanjak, pada 2004 atau saat berusia 38 tahun, Eqbal mendadak memutuskan untuk pensiun dini dari Wika. Kenapa?  ”Awalnya memang menimbulkan tanda tanya dan mengagetkan banyak pihak. Kantor juga menahan saya karena saya diproyeksikan jadi direktur. Tapi, suara hati saya tidak bisa berbohong. Saya ingin bebas dan ingin punya usaha sendiri,” ungkapnya.

Dengan memiliki usaha sendiri, Eqbal merasa lebih sukses menjadi seorang manusia. Dia bisa lebih banyak membantu orang sekitar dengan merekrut mereka sebagai pegawai. Usaha yang dipilih saat itu tak jauh-jauh dari keahliannya selama ini, yakni di bidang konstruksi.

Selain suara hati, hal yang membuat dia nekat mendirikan usaha adalah dukungan teman-teman golfernya. Mereka, kata Eqbal, sudah sering memercayakan proyek-proyek besarnya kepada dirinya. ”Itulah salah satu hal yang saya syukuri sampai saat ini karena saya berkenalan dengan golf. Golf membantu mewujudkan cita-cita saya untuk memiliki usaha mandiri,” terang pemilik golf handicap 20 tersebut.

Berbarengan dengan pendirian usaha sendiri itu, Eqbal juga mendirikan klub golf yang dia beri nama Construction Engineering Professional Association (CEPA). ”Nama itu dipilih karena yang bergabung di klub pada awalnya adalah mereka yang berprofesi sebagai pekerja di bidang konstruksi. Tapi, tak lama kemudian klub juga menerima masyarakat umum.”

Hingga kini CEPA telah memiliki ribuan member. Namun, yang aktif berkumpul ”hanya” sekitar 400 anggota. Mereka punya latar belakang profesi beragam. Ada yang pengacara, politikus, polisi, seniman, hingga teknokrat. ”Hampir setiap Kamis kami turun di beberapa lapangan golf untuk main bareng,” jelas ketua umum Astekindo (Asosiasi Tenaga Teknik Konstruksi Indonesia) tersebut.

ruslan-wamen-dirjen-bk-agus-hermanto-eqbal-bambang-rahmadi-lukman-hidayat-djadjuk-natsir
Kika: Ruslan Rivai, AM Fachir, Syarif Burhanudin, Lukman Hidayat, Agus Hermanto, Bambang Rahmadi, Djadjuk Natsir & Eqbal CEPA. ” **Catatan penting: Foto Salam Jari diatas adalah salam Jari CEPA yang sudah ada sejak CEPA berdiri 7 tahun silam, Bukan salam jari Pilpres yang sudah lewat kemarin …” – Sabtu, 27 Oktober 2018

Dalam perkembangannya, Cepa tidak hanya mengurusi jasa konstruksi dan klub golf. CEPA Group merambah bisnis yang lain, di antaranya koperasi, penerbitan majalah khusus golf dan lifestyle, serta lawfirm. Khusus yang terakhir itu, dia banyak dibantu anggota klub yang ahli soal hukum.

Dari perjalanan hidupnya tersebut, Eqbal menegaskan bahwa kesuksesan diraih karena dirinya mengikuti kata hati. ”Walau orang menentang, asal kita yakin, insya Allah hasilnya akan maksimal,” tuturnya.

”Yang juga penting, perluas pergaulan di mana pun kita berada. Kalau hobi golf ya perluas pergaulan di sana. Karena bisa saja kehidupan dan penghidupan kita berasal dari situ,” tandas Eqbal yang kini juga terkenal dipanggil Eqbal CEPA.

Eqbal CEPA
Eqbal CEPA

Mau kenalan dengan Eqbal CEPA? Sepertinya mesti waiting list dulu kira2 tiga bulan lah …he heee,

Eqbal saat peresmian Fanitra Plaza TMII
Eqbal saat peresmian Fanitra Plaza TMII

penulis: Panji Dwi Anggara
editor: lea
cepagram.com

Facebook Comments