Perang Dagang dan Mata Uang Akan Kembali Menekan Pertumbuhan Ekonomi di Semester Kedua 2019

0
125
Pictures: NYTime


Perang Dagang dan Mata Uang Akan Kembali Menekan Pertumbuhan Ekonomi di Semester Kedua 2019.

Pertumbuhan ekonomi tumbuh 5,05% (yoy) di triwulan kedua 2019 lebih rendah dibandingkan ekspektasi kami sebesar 5,1% (yoy). Kami menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi kami menjadi hanya 5.0% (yoy) di tahun 2019 dari sebelumnya sebesar 5.18% (yoy).  

Tekanan terhadap perang dagang kami lihat akan semakin berat bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan ketiga dan keempat tahun 2019. Perang dagang yang sekarang berujung pada currency war setelah PBOC memperlemah nilai tukar yuan di atas 7,0 per dollar kami perkirakan akan semakin meningkatkan tensi perang dagang AS-China dan berujung pada perlambatan investasi serta ekspor-impor global, termasuk Indonesia. Perang mata uang kali ini kemungkinan akan menekan investasi dan juga konsumsi di semester kedua 2019 sehingga secara keseluruhan memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Konsumsi masih menjaga pertumbuhan ekonomi tetap stabil di triwulan kedua 2019 meskipun tekanan untuk melambat cukup besar di triwulan ketiga dan keempat. Konsumsi domestik terlihat masih menunjukkan tren peningkatan di triwulan kedua 2019. Puasa dan lebaran yang jatuh pada triwulan kedua memberikan dampak positif bagi pertumbuhan konsumsi domestik yang tumbuh sebesar 5,17% lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan pertama yang tumbuh sebesar 5,02%.

Selain itu pertumbuhan konsumsi domestik juga dibantu oleh pertumbuhan konsumsi Lembaga Nonprofit Melayani Rumah Tangga (LNPRT) yang naik double digit sepanjang triwulan pertama dan kedua. Kami melihat ada kemungkinan konsumsi domestik akan melambat di triwulan ketiga dan keempat akibat efek musiman, setelah berakhirnya puasa dan lebaran, serta berakhirnya pemilu yang kemungkinan akan menekan pertumbuhan konsumsi LNPRT.     

Investasi kemungkinan akan semakin melambat di triwulan ketiga dan keempat 2019. Kami melihat, investasi kemungkinan akan melambat akibat perang dagang dan perang mata uang antara AS-China. Efek currency war kemungkinan akan semakin meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global dan juga Indonesia yang kemungkinan akan mendorong investor untuk wait and see dalam menentukan pilihanya untuk berinvestasi. Perlambatan investasi kemunginan yang akan membebani pertumbuhan ekonomi tumbuh tinggi. Investasi yang melambat diperkirakan akan menekan sektor ekonomi yang menyerap banyak tenaga kerja seperti sektor, pertambangan, industri olahan dan perdagangan. Pelemahan ketiga indikator ini sudah terlihat di triwulan kedua di mana pertumbuhan ketiga sektor tersebut tumbuh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi. Selain itu pertumbuhan investasi juga diperkirakan akan melambat seiring terbatasnya pertumbuhan kredit perbankan yang hanya tumbuh 11,1% (yoy) di bulan Mei. Terbatasnya pertumbuhan kredit disebabkan karena pertumbuhan DPK yang terbatas sebesar 6,7% (yoy) di bulan Mei.

Belanja pemerintah kemungkinan akan melambat akibat shortfall pajak tahun ini. Belanja pemerintah kemungkinan akan melambat akibat pertumbuhan pajak yang cukup rendah tahun ini akibat pelemahan sektor industri olahan dan perdagangan serta rendahnya harga komoditas ekspor. Kami memperkirakan shortfallpajak akan sebesar Rp 165 triliun tahun ini yang kemungkinan akan memperlebar defisit anggaran mencapai 2,3% terhadap PDB dari target sebesar 1,8% dari PDB.Pelebaran defisit tersebut kemungkinan akan diikuti dengan penerbitan obligasi negara yang lebih banyak dan dapat kembali menekan harga obligasi di triwulan keempat 2019.

Ekspor kami perkirakan akan semakin melambat di triwulan ketiga dan keempat tahun ini akibat perang dagang dan perang mata uang. Perlambatan ekspor kemungkinan besar semakin didorong oleh pelemahan yuan terhadap dollar yang kemungkinan akan mendorong pelemahan mata uang negara-negara Asia Timur lainya. Akibat dari perang mata uang ini kami perkirakan akan semakin mendorong setiap negara untuk memproteksi ekonomi masing-masing untuk menjaga surplus neraca perdagangan masing-masing. Eskalasi perang dagang kami perkirakan akan semakin meningkat seiring keputusan PBOC untuk mendevaluasi yuan di atas 7-7,1 per dollar. AS kemungkinan akan kembali melakukan retaliasi atas pelemahan yuan tersebut. Ekspor kami perkirakan akan mengalami kontraksi ke level 3%-4% di triwulan ketiga dan keempat sementara impor juga akan turun ke level 9%-10% sebagai konsekuensi melambatnya pertumbuhan investasi.    –  samuel sekuritas

Facebook Comments