Perjalanan Cak Eqbal dari Wika ke CEPA

0
491
Cak Eqbal

Berbisnis sambil perbanyak teman

Bisnis yang tidak menjadi amal, tidak menjadi ilmu dan memutuskan silaturahmi, walaupun menghasikan uang sesungguhnya itu adalah bencana (Aa Gym).

Sepertinya nasihat itu sesuai dengan prinsip yang dijalani lelaki yang satu ini dalam berkiprah didunia bisnis maupun kegiatan lain yang dia lakukan.

Dalam dunia konstruksi dan golf, nama Ludy Eqbal Almuhamadi sudah tidak asing lagi. Perjalanan panjang meniti karir membentuknya menjadi salah satu tokoh konstruksi kaliber nasional yang mumpuni.

Beberapa jabatan penting pernah dia sandang. Demikian juga kiprahnya di dunia golf. Meski bukan golfer professional, namun kecintaannya pada olahraga ayun stik itu cukup tinggi. Bahkan, menurut dia, dari golf dirinya menemukan kehidupan sekaligus penghidupan yang menyenangkan, setidaknya silaturahmi luar biasa yang terjalin melalui olah raga ini.

Awalnya, bagi pria yang lahir di sebuah desa kecil di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, 27 April 1966, itu, golf jauh dari jangkauannya. Setamat SMA di kota kelahiran, Eqbal merantau ke Malang untuk berkuliah di jurusan Teknik Sipil, Politeknik Universitas Brawijaya Malang yang saat ini lebih dikenal dengan nama Polinema (Politeknik Negeri Malang).

Jalan hidup Ludy Eqbal yang kini akrab dipanggil Cak Eqbal ini rupanya diselimuti kemujuran. Setamat kuliah, tanpa sempat menganggur, dia diterima sebagai karyawan di PT Wijaya Karya (Wika) pada tahun 1988. Dengan penempatan pertama di Nanggroe Aceh Darussalam. ”Sembari bekerja, saya meneruskan kuliah S-1 di salah satu universitas swasta di sana, yaitu Universitas Abulyatama” jelasnya.

Karirnya di PT. Wijaya Karya cukup moncer. Beberapa proyek besar sukses dia tangani. Setelah lima tahun bertugas di Aceh, dia mendapat promosi ke Medan, yakni proyek Access Road dan Pemagaran Lahan Bandara Kualanamu PT. Angkasa Pura II. Tak lama setelah itu, dia lagi-lagi harus kembali ke Aceh karena Wika mendapat proyek besar berupa perbaikan dan peningkatan Bandara, tepatnya proyek pelebaran dan perpanjangan Runway Bandara Sultan Iskandar Muda pada tahun 1999.

eqbal-yes

”Saya ditarik (ditugaskan) lagi ke Aceh gara-gara saya bisa berbahasa Aceh. Saat itu masih ramai-ramainya GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Mungkin proyek itu membutuhkan orang yang bisa berkomunikasi dengan bahasa Aceh sekaligus menguasai teknik konstruksi,” ujarnya. Proyek tersebut sukses di tangan Eqbal.

Dia kembali mendapat promosi, kali ini ke Jakarta. Nah, di ibu kota itulah dia berkenalan dengan golf. Ini terjadi karena pekerjaan Eqbal sudah termasuk level menengah, sebagai manajer marketing. Sehingga oleh perusahaan dia diminta belajar golf agar bisa meng-entertaint klien (marketing).

”Lobi bisnis lewat golf itu luar biasa pengaruhnya,” ungkap dia.

Ternyata, harapan dan kepercayaan perusahaan dia jawab dengan baik. Apalagi, sejak dia menekuni golf, jumlah kliennya terus meningkat. Proyek yang didapat pun termasuk proyek dalam skala besar.

Tak heran, pada 2000 dia mendapat promosi lagi, yakni diangkat sebagai kepala cabang Wika di Riau. ”Waktu itu usia saya baru 34 tahun. Alhamdulillah, saat diangkat, dan saya menjadi kepala cabang termuda dikalangan perusahaan BUMN lainnya,” ucapnya.

Eqbal & Ito Sumardi
Eqbal & Ito Sumardi

Di Riau kecintaannya pada golf semakin menjadi-jadi. Apalagi sejak dia berkenalan dengan para pejabat dan tokoh masyarakat seperti Jenderal (Pur) Ito Sumardi (mantan Kabareskrim) yang kala itu menjadi Kapolda Riau dan Jenderal Sutarman yang saat itu menjabat Kapolda Kepulauan Riau. ”Beliau-beliau itu senang golf. Terutama Pak Ito. Makanya, di kepengurusan klub kami, beliau kami daulat menjadi Dewan Pembina,” jelasnya.

Di tengah karirnya yang sedang menanjak, pada 2004 atau saat berusia 38 tahun, Eqbal mendadak memutuskan untuk pensiun dini dari Wika. Kenapa? ”Awalnya memang menimbulkan tanda tanya dan mengagetkan banyak pihak. Kantor juga menahan saya karena saya diproyeksikan jadi direktur. Tapi, suara hati saya tidak bisa berbohong. Saya ingin bebas dan ingin punya usaha sendiri,” ungkapnya.

Dengan memiliki usaha sendiri, Eqbal merasa lebih sukses menjadi seorang manusia. Dia bisa lebih banyak membantu orang sekitar dengan merekrut mereka sebagai pegawai. Usaha yang dipilih saat itu tak jauh-jauh dari keahliannya selama ini, yakni di bidang konstruksi.

Selain suara hati, hal yang membuat dia nekat mendirikan usaha adalah dukungan teman-teman golfernya. Mereka, kata Eqbal, sudah sering memercayakan proyek-proyek besarnya kepada dirinya. ”Itulah salah satu hal yang saya syukuri sampai saat ini karena saya berkenalan dengan golf. Golf membantu mewujudkan cita-cita saya untuk memiliki usaha mandiri,” terang pemilik golf handicap 12 ini.

Berbarengan dengan pendirian usaha sendiri itu, Eqbal juga mendirikan klub golf yang dia beri nama Construction Engineering Professional Association (CEPA). ”Nama itu dipilih karena yang bergabung di klub pada awalnya adalah mereka yang berprofesi sebagai pekerja di bidang konstruksi, khususnya teman-teman BUMN Konstruksi. Tapi, tak lama kemudian klub juga menerima masyarakat umum,” jelas Eqbal yang kini menjadi Dewan Pembina CEPA.

Hingga kini CEPA telah memiliki ribuan member di seluruh Indonesia. Mereka punya latar belakang profesi beragam. Ada yang pengacara, politikus, polisi, seniman, hingga teknokrat. ”Hampir setiap Kamis kami turun di beberapa lapangan golf untuk main bareng,” jelasnya.

Dalam perkembangannya, CEPA tidak hanya mengurusi jasa konstruksi dan klub golf saja. CEPA Group merambah bisnis yang lain, di antaranya koperasi, penerbitan majalah khusus golf dan lifestyle, PT. CEPA Jasa Indonesia, serta CEPA lawfirm. Khusus yang terakhir itu, dia banyak dibantu anggota klub yang ahli soal hukum.

Dari perjalanan hidupnya tersebut, Eqbal menegaskan bahwa kesuksesan diraih karena dirinya mengikuti kata hati. ”Walau orang menentang, asal kita yakin, insya Allah hasilnya akan maksimal,” tuturnya. ”Yang juga penting, perluas pergaulan di mana pun kita berada. Kalau hobi golf ya perluas pergaulan di sana. Karena bisa saja kehidupan dan penghidupan kita berasal dari situ. Tapi terlepas dari itu semua, persahabatan harus dijalin dengan niat tulus. Karena bagaimanapun, persahabatan adalah nomor satu,” tandas Eqbal.

Di bidang konstruksi Eqbal dipercaya menjadi Ketua Umum Asosiasi Profesi yaitu ASTEKINDO (Asosiasi Tenaga Teknik Konstruksi Indonesia). Visinya adalah mempersiapkan tenaga teknik konstruksi yang mumpuni dan berdaya saing global. Tak hanya itu saja, yang terbaru Eqbal juga mendapat amanah menjadi Ketua Umum IKA Polinema (Ikatan Alumni Politeknik Negeri Malang, dulunya adalah Politeknik Universitas Brawijaya Malang).

Menurut Eqbal, ada tiga hal pokok yang akan dia maksimalkan dalam kepemimpinannya. Pertama adalah membangun jaringan dan silaturahmi yang baik antar alumnus, memperkuat kerjasama dengan kampus, serta terakhir adalah meningkatkan kualitas hubungan antar civitas dengan berbagai instansi terkait. ”Semua bisa dicapai dengan niat tulus dan rasa persahabatan yang tinggi,” jelasnya.

cepa-annv-6-top
Para Petinggi CEPA dengan foto pose Salam Jari CEPA dalam Ulang Tahun CEPA yang ke 5 – Palm Hill 2017

penulis: Panji Dwi Anggara
editor: Nurjawan Maruapey

Tentang Eqbal baca juga ini:

Munas IKA Polinema: Selamat Cak Eqbal Terpilih Secara Aklamasi

Ludy Eqbal Almuhamadi

eqbal-psp

cepagram.com – the only one in the world of CEPA

Facebook Comments