Riset Ekonomi Pagi

0
184
CEPA BostonBag

Berita Global

·      Beberapa sinyal resesi Amerika ini kembali menyala merah. Yield Obligasi yang inverted, pertumbuhan earning per share S&P 500 yang hanya 3% dibandingkan konsensus 7% serta perlambatan investasi dan kontraksinya PMI manufaktur di AS menjadi beberapa sinyal akan kemungkinan resesi ekonomi di AS tahun depan. (Kontan)

·      AS terapkan tarif baru, China gugat ke WTO. China mengajukan gugatan ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Senin (2/9), terhadap langkah Amerika Serikat (AS) yang mengenakan tarif 15% atas produk mereka.

Berita Domestik

·         Banggar sepakati asumsi ICP turun jadi US$ 63 dalam APBN 2020. Rapat Panitia Kerja dengan Pemerintah terkait Asumsi Dasar dan Pendapatan dalam RUU APBN Tahun 2020, Senin (2/9), memutuskan, asumsi ICP sebesar US$ 63 per barel, lebih rendah dari asumsi dalam RAPBN 2020 yaitu US$ 65 per barel. (Kontan)

·         Penerimaan cukai dipatok tumbuh 9%, tarif cukai rokok pasti naik dobel digit. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memastikan kenaikan tarif cukai rokok di tahun 2020 bakal mencapai angka dobel digit. (Kontan)

·         Harga komoditas pemicu inflasi bulan Agustus 2019 sebesar 0,12%. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada bulan Agustus 2019 sebesar 0,12% (mom). Sementara tingkat inflasi tahun kalender (Januari 2019 – Agustus 2019) tercatat sebesar 2,48% dan tingkat inflasi tahun ke tahun sebesar 3,49% (yoy).

·         Beberapa komoditas penyumbang inflasi. Cabai merah yang memberi andil inflasi sebesar 0,1%. cabai rawit yang memberi andil 0,07% terhadap inflasi Agustus 2019.  emas perhiasan yang memberi andil 0,05%. Harga emas saat ini naik karena mengikuti tren harga kenaikan di pasar internasional. (Kontan)

Dollar Index menguat rupiah diperkirakan bergerak menguatDollar indeks diperkirakan bergerak menguat ke level 99.1-99.30 terhadap mata uang kuat utama lainya. Penguatan dollar ditopang oleh berita negative dari AS dan China di mana kedua negara sepakat untuk saling balas menaikan tarif terhadap impor masing-masing negara. AS secara resmi mengenakan tarif 15% terhadap USD 112 miliar impor dari China sementara China mengenakan restriksi impor terhadap minyak dari AS. Rupiah kemungkinan menguat di tengah penguatan dollar tersebut didorong yield obligasi negara yang masih cukup tinggi di tengah penurunan yield obligasi negara-negara berkembang. Rupiah kemungkinan menguat ke level Rp14.180/USD-Rp 14.190/USD.

Investor Abaikan Perang Tarif AS-China, Bursa Eropa Menguat

Darmin Kumpulkan Pejabat Bahas Sengketa WTO

 

Facebook Comments