Mengenal Ardi Aryono Lebih Dekat

0
286
Ardi Aryono

Jejak Alumni Polinema

Perjalanan Ardi Aryono, Nganjuk – Malang – Jakarta

Awal Agustus 1992, sekelompok anak muda lulusan Politeknik Malang berangkat ke Jakarta untuk diterima di Sony Electronics Indonesia, perusahaan elektronik Jepang yang pada waktu itu sedang semangat-semangatnya membangun pabriknya di Indonesia.

Satu diantaranya adalah Ardi, lulusan Akuntansi dari angkatan 1989, yang sesudah menjalani proses interview di kampus ditempatkan di bagian Procurement. Berkumpul bersama lulusan-lulusan Politeknik dari kota lain, beberapa karyawan baru ditempatkan di bagian Procurement yang menangani vendor lokal, sementara Ardi ditempatkan di bagian yang menangani vendor Singapore dan Malaysia.

Pada waktu itu budaya dan pola bekerja gaya Jepang masih sangat kental di perusahaan tersebut.

“Setiap hari kita diberikan satu cetakan yang sangat tebal yang dibundle di bantex, isinya daftar parts yang dibeli yang harus dimonitor keberadaannya, tanggal berapa dikirim dari vendor, tanggal berapa sampai di gudang Singapore, kapan dari pelabuhan Singapore, perkiraan barang datang di Tanjung Priok dan seterusnya”, ujarnya.

“Jadi apabila production line kegiatannya berhenti karena kekurangan parts, sudah pasti kita orang pertama yang dimaki-maki orang Jepang, karena tugas utama kita memang memastikan production tidak kekurangan parts. Untungnya kita ga begitu faham bahasa makian orang Jepang hehe”, lanjutnya.

Nothing is Impossible

Dari situ Ardi belajar berkomunikasi bisnis dengan vendor luar negeri, berbasa-basi sampai sekedar menanyakan status dari pembelian barang. Karena ketertarikan dan kesukaannya di komputer, Ardi sering diminta oleh perusahaan untuk membuat laporan, membuat flow chart dan membuat banner-banner. Banner-banner yang sering dibuat adalah yang berisi himbauan-himbauan management, kalimat-kalimat motivasi yang ditempel di dinding sehingga bisa dibaca semua orang.

Ada satu banner yang pernah dibuat bertuliskan “Nothing is Impossible”, yang spiritnya tetap terbawa sampai sekarang dalam kehidupan sehari-hari.

“Dalam bahasa sehari-hari kurang lebih saya terjemahkan menjadi -apa sih yang kita ga bisa, selama keliatan oleh mata-”, lanjutnya.

Membuat Program Pertama

Selama kuliah di Jurusan Akuntansi, mata kuliah yang nilainya A justru berasal dari mata kuliah yang tidak ada hubungannya dengan Akuntansi yaitu Komputer dan Bahasa Inggris.

“Mata kuliah Akuntansi, Dasar, Intermediate dan Akuntansi Biaya selalu mendapatkan nilai C”, akunya sambil tertawa.

Berdasarkan interest-nya yang besar di bidang komputer, dan lelah dengan menulis tangan setiap hari, diam-diam Ardi membuat satu program dengan menggunakan DBase III untuk mencatat parts monitoring.

“Disaat orang lain pulang jam 5, saya menghabiskan waktu berlama-lama di komputer untuk membuat program. Disamping memang project diam-diam, juga lumayan sambil dibayar lembur”, akunya jujur.

Singkat kata, programnya jadi, dan akhirnya digunakan di bagian Procurement untuk proses monitoring yang lebih cepat dan di apresiasi oleh management. Dengan hanya memasukkan part-number, keluarlah status pembelian dan pengiriman barangnya, yang pada saat itu sudah sangat membantu dibanding membuka-buka lembaran kertas secara manual.

Pindah ke Bakrie Telecom

Sesudah 3 tahun di Sony, Ardi pindah ke Bakrie Telecom di bagian Warehouse. “Dulu saya termasuk karyawan generasi pertama yang membangun Ratelindo, penyedia fixed wireless phone pertama di Indonesia”, katanya.

Dengan pengalaman yang sama di Sony, Ardi membangun sendiri aplikasi untuk Warehouse di Ratelindo dengan menggunakan VB dan Microsoft Access. Karena kemampuannya, akhirnya management tertarik untuk memindahkan Ardi ke bagian IT. Dari situlah Ardi mengenal enterprise application yang dibangun dengan database Oracle dan mendapat kesempatan mempelajari SQL/PLSQL yang akhirnya membuat ketertarikan Ardi di komputer semakin besar.

Ardi sempat melanjutkan kuliah di UI Fakultas Ekonomi – Management selama satu tahun sebelum akhirnya berhenti karena merasa tidak sesuai dengan passion-nya.

“Kadang menyesal kenapa berhenti, tapi sekarang saya fikir-fikir, saya bisa sampai ke titik ini ya karena totalitas mencintai pekerjaan, dan mengabaikan hal-hal lain termasuk kuliah”, katanya.

Berkenalan dengan Pasar Modal

Pada tahun 1999, Ardi direkrut satu perusahaan konsultan IT dari Belgia yaitu C-Consulting, sebagai programmer, yang pada waktu itu memperoleh pekerjaan untuk membangun Scripless System di KSEI. Untuk pekerjaan tersebut Ardi diminta untuk training aplikasi di Antwerp, Belgia. Berdasarkan pengalaman itulah Ardi menjadi banyak tahu tentang dunia pasar modal, yang membuatnya tertarik untuk membuat aplikasi online trading.

“Jadi pada waktu itu, di Korea sedang giat-giatnya mengembangkan online trading di pasar modal, sementara di Indonesia koneksi internet yang dirumahrumah baru 14,4kbps menggunakan Telkomnet”, katanya menjelaskan ketimpangan antara Korea dan Indonesia.

Pada tahun 2000, Ardi kemudian keluar dari C-Consulting dan membangun satu perusahaan baru bersama beberapa lulusan informatika ITB dan fokus kepada pengembangan online trading untuk saham. Sesudah aplikasi tersebut selesai, aplikasi tersebut kemudian dibeli oleh anak perusahaan sekuritas terkenal di Indonesia. Perusahaan tersebut sempat menjadi penyedia aplikasi online yang ditunjuk oleh Bursa Efek Surabaya (sebelum merger dengan Bursa Efek Jakarta menjadi Bursa Efek Indonesia) dengan menggunakan aplikasi yang dibangun oleh Ardi dan team.

“Banyak aplikasi atau tekhnologi yang lahir sebelum masanya, sepertinya demikian juga online trading pada tahun 2000-an. Saya fikir kami termasuk generasi pertama yang membangun aplikasi trading online di Indonesia, dengan segala keterbatasannya. Koneksi internet yang masih buruk, masyarakat yang belum internetminded ga seperti sekarang, konsep trading bursa yang belum sepenuhnya mendukung online trading dan sebagainya”, keluhnya.

Dari situ Ardi kemudian melanjutkan bisnisnya di bidang IT. Sempat menjadi technical team leader untuk project-project aplikasi akademis dan library system di Universitas Atmajaya dan Perguruan Al-Izhar.

Anti Money Laundering

Pada tahun 2009 Ardi bersama satu partner lulusan informatika ITB mengembangkan Anti Money Laundering System. System tersebut sampai sekarang sudah digunakan di 19 Penyelenggara Jasa Keuangan di Indonesia, termasuk beberapa bank dan sekuritas asing.

“Aplikasi ini sebenarnya mendukung program pemerintah lho dalam hal counter terrorist financing dan anti money laundering yang sekarang digalakkan oleh pemerintah”, katanya.

“Sebagai penutup, pada akhirnya, tidak ada yang tidak mungkin didunia ini. Saya kuliah di jurusan Akuntansi. Bisnis dan kerjaan di aplikasi enterprise untuk bank dan sekuritas. Jalurnya darimana saya juga tidak tahu. Saya tidak pernah merasa saya luar biasa, masih banyak yang jauh lebih expert.

Satu hal yang pasti, saya menyukai apa yang saya kerjakan dan mengerjakan yang saya sukai. Dengan begitu akan muncul sendiri jalan dan hasilnya. Saya merasa beruntung belajar dan akhirnya memahami dunia akuntansi, karena dari situ saya jadi memahami istilah-istilah dan terminologi banking dan keuangan yang orang-orang IT tidak banyak tahu.

Sekarang saya memiliki beberapa orang programmer dan business analyst, yang dalam keseharian bisa berdiskusi dengan saya mengenai hal-hal teknis dan aspek bisnisnya. At the end saya tidak merasa sukses, tapi saya puas dan happy dengan apa yang saya jalani”, tutup pria beranak dua yang setiap minggu masih menyempatkan main band, hobby yang ditekuninya dari jaman masih di Politeknik Malang.

ardi-2
Ardi bersama keluarga
Tentang Ardi

Nama Lengkap : Ardi Aryono
Tempat Tanggal Lahir : Nganjuk, 26/11/1970
Tempat Tinggal : Kemang Pratama, Bekasi, Jawa Barat
Hobby : Main Musik, Membaca, Menulis

Skills :

1. Visual Basic, Delphi, Java, C# programming
2. HTML, Jquery, php, asp, jsp scripting
3. SQL, PLSQL
4. Design
5. Communication
6. Project Management

Highlighted Experience :

2007 : Implementasi Sistem Akademis dan Library System di Universitas Atmajaya, Jakarta
2010 : Implementasi Anti Money Laundering di Bank Muamalat, Jakarta
2010 : Implementasi Anti Money Laundering dan Pengawasan Transaksi Bursa di Mandiri Sekuritas, Jakarta
2011 : Implementasi Anti Money Laundering di Bank Mutiara (now JTrust Bank), Jakarta
2012 : Implementasi Anti Money Laundering dan Pengawasan Transaksi Bursa di Trimegah Sekuritas, Jakarta
2012 : Implementasi Anti Money Laundering di ChinaTrust Bank, Jakarta
2012 : Implementasi Front End System di BJB, Bandung
2013 : Implementasi Anti Money Laundering di Kim Eng Securities, Jakarta
2013 : Implementasi Front End System di Bank Mutiara (now JTrust Bank), Jakarta
2014 : Implementasi Anti Money Laundering di SBII (Subsidiary Bank of India) Bank, Jakarta
2015 : Implementasi Anti Money Laundering dan Pengawasan Transaksi Bursa di Danareksa Sekuritas, Jakarta
2015 : Implementasi Anti Money Laundering di BJB, Bandung
2015 : Implementasi Anti Money Laundering di Bank Agris, Jakarta
2015 : Implementasi Anti Money Laundering di Danareksa Investment Management, Jakarta
2016 : Implementasi Anti Money Laundering di OCBC Sekuritas, Jakarta
2017 : Implementasi Anti Money Laundering di Tokio Marine Life Insurance, Jakarta
2017 : Implementasi Anti Money Laundering di Bank Mandiri Taspen, Jakarta
2017 : Implementasi Anti Money Laundering di Mirae Securities, Jakarta
2017 : Implementasi Anti Money Laundering di CGS CIMB Securities, Jakarta
2018 : Implementasi Anti Money Laundering di Bank of India, Jakarta
2018 : Implementasi Anti Money Laundering di Bank BNI Syariah, Jakarta
2019 : Implementasi Anti Money Laundering di Bank Kaltimtara, Samarinda
2019 : Implementasi Front End System di Bank Victoria, Jakarta

Gallery Ardi Aryono:
Ardi Aryono
Studio Music Ardi Aryono
Ardi Aryono
Bersama Cak Eqbal Saat Acara Turnamen Golf Direktur Polinema Cup 2017
photo-2019-09-04-11-56-59
Sedang Manggung di Dins CEPA Kopi Pulo Gebang
Ardi Aryono
Mendampingi BNI Syariah launching aplikasi ke cabang2
Bersama Panitia Alumni Polinema Golf Tournament
Bersama Panitia Alumni Polinema Golf Tournament

cepagram.com – the only one in the world of CEPA

Facebook Comments