|InfoSaham| Saham Tahan Banting Resesi dan Pandemi – Penting Bagi Yang Main Saham

0
23

|InfoSaham| Saham Tahan Banting Resesi dan Pandemi
Penting bagi yang main saham dan yang sedang belajar main saham

Potensi Resesi

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kembali berbicara mengenai pandangannya terhadap ekonomi di kuartal III-2020. Meski tidak secara jelas menyebutkan positif atau negatif, dia yakin ekonomi RI di kuartal III-2020 menunjukkan pemulihan dari kuartal II-2020 yang terkontraksi -5,3%.

“Kalau kita lihat pada kuartal kedua perekonomian mengalami kontraksi 5,3%. Kita sudah mulai menunjukkan pemulihan pada kuartal ketiga dan kita berharap pemulihan ini akan kita jaga. Sehingga Indonesia bisa melewati zona kontraksi dan sekaligus melewati dan menangani COVID-19 itu sendiri,” ujarnya dalam acara Launching Pengembangan Potensi Santripreneur Berbasis UMKM Sawit sebagai Program Pemberdayaan Ekonomi Daerah secara virtual, Kamis (1/1/2020).

Meski begitu, Sri Mulyani kembali mengingatkan bahwa pandemi COVID-19 tak hanya berdampak pada kesehatan tapi juga memberikan dampak yang luar biasa besar terhadap kehidupan masyarakat, perekonomian dan dunia keuangan.

“Banyak ekonomi di dunia yang mengalami kontraksi sangat dalam akibat pandemi ini. Ini karena untuk menangani COVID-19 perlu dilakukan langkah-langkah di bidang kesehatan yang memiliki dampak yang sangat besar kepada kegiatan sosial ekonomi,” tuturnya. – detik.com

Prediksi Saham-saham Tahan Banting Terhadap Resesi & Pandemi

Kemudian selanjutnya, tentu Hantu Resesi ini akan membayangi para investor yang berinvestasi di pasar modal.

International Investor Club – Sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, hingga Singapura sudah jatuh ke dalam jurang resesi. Ini jadi sentimen negatif. Ketika hantu resesi tengah membayangi, dan saham apa yang layak untuk dikoleksi?

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, meski demikian, investor dinilai boleh asal dalam menempatkan dananya. Masih belum jelasnya kondisi ekonomi dan berakhirnya pandemi membuat investor harus lebih selektif lagi dalam menentukan saham yang akan diambil.

Presiden Direktur Sequis Aset Manajemen, Sigit Pratama Wiryadi menilai bahwa dalam kondisi ini hanya ada beberapa jenis saham yang akan tahan banting. Walau di tengah ketidakpastian, saham ini diyakini mampu lebih stabil.

Ia mengungkapkan:

“Sektor kebutuhan primer terbukti tahan banting, maksudnya seperti produsen mie yang kita makan sehari-hari. Selain itu telekomunikasi, karena kita tetap butuh apalagi saat work from home, kebutuhan untuk bandwith dengan kantor [semakin] terasa.”

Professional Trader Jie Hadi Kusumo pun mengatakan potensi resesi yang dihadapi Indonesia saat ini membuat investor cenderung melirik saham-saham di sektor konsumer karena sektor ini dinilai tahan menghadapi kondisi apapun. Dalam sajian berita CNBC Indonesia, ia mengungkapkan:

“Biasanya kan kalau krisis orang kena PHK, lapangan pekerjaan kurang, kontrak disetop, intinya ekonomi melambat. Tapi orang tetap butuh makan, jadi sektor consumer goods seperti Unilever, ICBP, Mayora. Bisa juga ke konsumer rokok GGRM, HMSP itu yang tahan krisis.”

**
Analis Philip Sekuritas Anugerah Zamzami Nasr menilai, ekonomi di kuartal III akan lebih baik. “Penurunan ekonomi mungkin tipis, tidak sedalam di kuartal dua,” kata dia.

Senada, Senior Vice President Research Kanaka Hita Solvera Janson Nasrial memprediksi penurunan ekonomi di kuartal III tidak akan sedalam di kuartal dua. Proyeksi dia, kemungkinan ekonomi bakal minus 1,5%.

Menurut Zamzani, pelaku pasar akan memperhatikan indikator ekonomi di Agustus untuk melihat sinyal perbaikan. Pasar akan lebih mencermati data ekonomi semisal indeks manufaktur, indeks kepercayaan konsumen, data konsumsi, termasuk penjualan otomotif, ritel dan semen.

Beberapa sinyal perbaikan sudah terlihat, tercermin dari PMI sektor manufaktur dan penjualan otomotif periode Juni yang membaik. Selain itu, penyaluran kredit Juli juga lebih tinggi ketimbang Juni.

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan, aktivitas bisnis yang mulai berjalan bisa meningkatkan ekonomi di kuartal tiga. Cuma, aktivitas belum optimal lantaran dibarengi peningkatan kurva kasus Covid-19.

Kondisi ini masih akan menekan kinerja keuangan emiten. Pertumbuhan laba perusahaan di kuartal tiga diprediksi cenderung tertekan di 10%-15%. Meski begitu, proyeksi ini lebih baik dibanding realisasi kuartal II-2020.

Karena itu, pasar saham juga masih berpotensi tertekan. Toh, analis menilai ada sejumlah saham yang kebal sentimen negatif resesi.

Wawan menyebut, ada dua hal yang harus dimiliki saham pilihan di masa resesi. Pertama, operasional bisnis yang berkelanjutan. Emiten yang tidak bisa beroperasi di masa pandemi dan resesi sebaiknya dihindari saat ini.

Kedua, emiten tetap menghasilkan pendapatan. “Saham dinilai dari ekspektasi kinerja di masa yang akan datang,” kata Wawan mengingatkan.

Pilihan saham tahan banting 

Wawan menyarankan saham emiten yang kinerja keuangannya masih naik, seperti ISAT dan AMRT. Saham perbankan juga dinilai menjadi yang paling cepat pulih ketika ekonomi membaik.

Janson menjagokan saham-saham sektor barang konsumsi dan farmasi. “Sebab konsumen akan memprioritaskan pengeluaran untuk makanan dan kesehatan,” jelas dia.

Saham Tahan Banting Pilihan Analis Anugerah Zamzami Nasr
(Analis Philip Sekuritas) Konsumer:
INDF
ICBP
UNVR

Perbankan:
BMRI,
BBCA,
BBRI

Wawan Hendrayana
(Head of Investment Research Infovesta Utama)
Telekomunikasi:
TLKM,
ISAT,
EXCL,
TOWR,
TBIG

Konsumer:
ICBP,
UNVR,
KLBF,
AMRT

Perbankan:
BBCA,
BBNI,
BBRI,
BMRI

Kesehatan: MIKA

Jason Nasrial
(Senior Vice President Research Kanaka Hita Solvera)

Konsumer dan farmasi:
KLBF,
ICBP,
INDF,
UNVR,
MYOR,
ROTI

Telekomunikasi:
TLKM,
EXCL,
TOWR

Maximilianus Nico Demus
(Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas)

Farmasi:
KAEF
Perbankan:
BBCA,
BMRI,
BBNI

Infrastruktur:
JSMR

Telekomunikasi:
TLKM, EXCL

Sementara Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Maximilianus Nico Demus menjagokan saham-saham di sektor kesehatan.

Wawan menyarankan investor menaruh 20% dana investasi di saham. Sekitar 50% disarankan ditempatkan di obligasi negara dan 30% di aset lancar seperti deposito atau reksadana pasar uang.

Zamzami menyarankan investor melakukan diversifikasi kelas aset. Ia menyarankan pilih saham dengan neraca kuat dan valuasi menarik. – kontan.co.id

Facebook Comments