Mengenal Kilang Minyak Cilacap: Sejarah dan Kapasitas Produksi

0
569

Mengenal Kilang Minyak Cilacap: Sejarah dan Kapasitas Produksi

Kristina – detikEdu

Minggu, 14 Nov 2021 15:30 WIB
PT Pertamina melalui Refinery Unit (RU) IV Cilacap mengolah minyak bumi sebesar 348.000 BSD. RU IV Cilacap menjadi kilang dengan kapasitas terbesar di Indonesia.
PT Pertamina melalui Refinery Unit (RU) IV Cilacap mengolah minyak bumi sebesar 348.000 BSD. RU IV Cilacap menjadi kilang dengan kapasitas terbesar di Indonesia.
Foto: Selfie Miftahul Jannah

Jakarta – Kilang Minyak Cilacap merupakan satu dari enam kilang minyak milik Pertamina yang masih beroperasi hingga saat ini. Kilang dengan kapasitas produksi terbesar ini telah beberapa kali mencatat kejadian kebakaran.

Insiden kebakaran Kilang Minyak Cilacap terbaru terjadi pada Sabtu, (13/11/2021). Api melahap satu tangki berisi produk Pertalite sekitar pukul 19.20 WIB. Hingga kini, belum diketahui penyebab pasti kebakaran tersebut.

Berikut sejarah, kapasitas, hingga daftar insiden kebakaran Kilang Minyak Cilacap:

Sejarah Kilang Minyak Cilacap

Pertamina merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di sektor energi. Pertamina membawahi lima subholding dengan satu di antaranya menjalankan pengilangan dan petrokimia.

Pada awalnya, Pertamina memiliki tujuh kilang minyak yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Namun, pada tahun 2007 Kilang Pangkalan Brandan sebagai Unit I ditutup operasionalnya.

Salah satu kilang yang masih aktif beroperasi dan menyumbang produksi terbesar adalah Kilang Minyak Cilacap atau Unit IV. Melansir situs Pertamina, Kilang Minyak Cilacap terdiri atas dua kilang minyak dan satu kilang paraxylene, yang memproduksi NBM dan Petrokimia.

Kilang Minyak I dibangun pada tahun 1974 dan diresmikan oleh Presiden pada 24 Agustus 1976. Kapasitas semula kilang ini sebesar 100 ribu barel per hari. Kilang ini dirancang untuk memproses bahan baku minyak mentah dari Timur Tengah untuk mendapatkan BBM sekaligus produk NBM, yaitu bahan dasar minyak pelumas (lube oil base) dan aspal.

Pertamina kemudian membangun Kilang Minyak II pada tahun 1981. Kilang ini mulai beroperasi pada 4 Agustus 1983 dengan kapasitas awal mencapai 200 ribu barel per hari. Kilang ini mengolah minyak “cocktail” yaitu minyak campuran, tidak saja dari dalam negeri juga di impor dari luar negeri.

Lima tahun kemudian, dibangunlah Kilang Paraxylene yang menghasilkan produk NBM dan Petrokimia. Kilang ini dibangun tahun 1988 dan mulai beroperasi pada 20 Desember 1990 setelah diresmikan oleh Presiden.

Kapasitas Produksi

Kilang Minyak Cilacap memiliki kapasitas produksi terbesar mencapai 348 ribu barel per hari. Kilang ini juga disebut memiliki fasilitas terlengkap dan bernilai strategis. Kilang Cilacap mampu memasok 34 persen kebutuhan BBM nasional atau 60 persen kebutuhan BBM di Pulau Jawa.

Kilang ini memiliki 228 tangki untuk menampung crude yang akan diolah, gas serta BBM hasil pengolahan minyak mentah.

Selain memproduksi BBM, Kilang Minyak Cilacap menjadi satu-satunya kilang di Tanah Air yang saat ini memproduksi aspal dan base oil untuk kebutuhan pembangunan infrastruktur di Tanah Air.

7 Kali Alami Kebakaran

Dirangkum dari berbagai sumber, Kilang minyak Cilacap telah mengalami insiden kebakaran sebanyak tujuh kali sejak awal beroperasi. Kebakaran pertama terjadi pada tahun 1995 tepatnya tanggal 24 Oktober. Sebanyak 10 kilang minyak terbakar dalam insiden ini. Diketahui penyebab kebakaran diakibatkan sambaran petir.

Kebakaran kedua terjadi pada 9 Maret 2008. Menurut catatan berita detikcom, kejadian ini mengakibatkan tiga orang meninggal. Meski demikian, kerugian yang ditimbulkan tidak cukup besar.

Setahun kemudian, Kilang Minyak Cilacap kembali mengalami kebakaran. Kebakaran terjadi di lokasi kilang penyulingan minyak. Diketahui penyebab kebakaran akibat kebocoran Kilang Fuel Oil Complex (FOC) Unit B.

Insiden berikutnya terjadi pada 24 Januari 2010 yang mengakibatkan munculnya letupan kecil di dapur pembakaran minyak. Beberapa sumber menyebutkan, letupan tersebut tidak mengakibatkan kebakaran seperti kejadian sebelumnya.

Lalu, pada 2 April 2011 kebakaran tangki Kilang Minyak Cilacap terjadi lagi. Kali ini, tangki yang terbakar bukanlah tangki berisi BBM melainkan berisi minyak ringan HOMC (High Octane Mogas Component). Api berhasil dipadamkan pada 6 April 2011.

Selanjutnya, kebakaran terjadi pada tahun 2016 di tangki aspal. Salah seorang saksi melihat asap hitam mengepul sekitar pukul 11.35 WIB, Rabu (5/10/2016).

Lima tahun berselang, kebakaran terjadi lagi. Sepanjang tahun 2021, Kilang Minyak Cilacap telah mengalami dua kali kebakaran. Kebakaran pertama terjadi pada 11 Juni 2021 di salah satu tangki yang berisi benzene. Terbaru, kebakaran terjadi kemarin, Sabtu (13/11/2021) di salah satu tangki berisi produk Pertalite.

(kri/erd)

 

Chemical risks in petrochemical industry – Risiko kimia dalam industri petrokimia

 

Iran’s petrochemical plant in Qom province hit by explosion, fire – Pabrik petrokimia Iran di provinsi Qom dilanda ledakan, kebakaran

WDA Online Training | Mengelola Akseptasi Risiko Pabrik Petrokimia dan Solusi Asuransi dan Reasuransi-nya(Petrochemical Risk and Insurance) | Rabu, 24 Februari 2021 | 09:00 s/d 12:00

 

Risks in Fertilizer Manufacturing Plant – Risiko dalam Pabrik Pupuk

Facebook Comments