Proyek LRT Cibubur - Cawang

PROYEK kereta ringan (light rail transit/LRT) Jabodebek mendapat suntikan dana investor sebesar Rp17 triliun. Direktur Utama Sarana Multi Infrastruktur (SMI) Emma Sri Hartini mengatakan SMI bersama BUMN lainnya memberikan pinjaman kepada PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk proyek LRT.

“Proyek LRT ini sedang penyesuaian perpresnya karena dalam perpres yang lama semua dana ditanggung oleh APBN. Sekarang (pendanaan) menjadi penugasan investasi untuk sinergi antar-BUMN,” ujar Emma pada perayaan Sewindu PT Sarana Multi Infrastruktur di Jakarta, kemarin (Rabu, 22/3).

Dia menuturkan, dalam proyek LRT Jabodebek, porsi modal dalam 30% dari total kebutuhan sebesar Rp23 triliun, yakni sekitar Rp7 triliun-Rp9 triliun, akan berasal dari penyertaan modal negara (PMN). Jadi sisanya, yakni sekitar Rp17 triliun, harus diambil dari porsi pinjaman.

“Itu kami akan coba masuk kolaborasi dengan bank BUMN lainnya. Dari jumlah tersebut, tenornya sedang kita lihat dengan pertimbangkan cash flow, proyeksi tarifnya, besar PSO-nya. Itu yang sedang kita lihat mungkin tenornya bisa 15 tahun,” paparnya.

Sebelumnya pemerintah sudah menyuntikkan dana untuk proyek itu melalui PT Adhi Karya (persero) Tbk sebagai kontraktor pelaksana sebesar Rp2 triliun pada tahap pertama dan Rp1,4 triliun dalam bentuk PMN.

“Bahwa KAI mengontrak kepada Adhi Karya sebagai kontraktor itu dimungkinkan. Nanti BUMN lainnya seperti bank BUMN dan termasuk SMI, bila ingin berinvestasi, ya, melalui KAI-nya,” terang Emmy.

Dengan suntikan dana sebelumnya pada kontraktor, PT KAI akan mampu mengatur ruang untuk mencari pinjaman pembiayaan.

“KAI yang me-leverage, kami salah satu pemberi pinjaman dan BUMN lain yang juga akan memberikan pembiayaan kepada KAI. Apakah KAI akan membentuk anak usaha atau tidak, itu hal yang bisa di-explore. Tapi sekarang KAI yang targetkan untuk bisa mengoperasikan ini, tapi pendekatannya menjadi investasi,” tuturnya.

SMI saat ini tengah melakukan <>assessment dana sebesar Rp17 triliun untuk proses pembiayaan tersebut. “Kemungkinan SMI bisa masuk di beberapa persen dari loan-nya, misalnya 10%-20% dari porsi Rp17 triliun,” imbuhnya.

Sementara itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi juga menerangkan bahwa pinjaman PT KAI ke bank BUMN dan asing akan dikoordinasi SMI.

“Di-underwrite oleh SMI. SMI entitas yang ditugasi koordinasi para investor. Katakan modal KAI ada Rp8 triliun, artinya kurang Rp15 triliun lagi SMI membiayai itu,” ujarnya. Budi Karya pun mengatakan pembayaran pinjaman itu akan dilakukan pada saat kereta LRT mulai beroperasi.

Hampir dua pekan lalu, pemerintah memutuskan skema pembiayaan pembangunan proyek LRT Jabodetabek akan dikerjakan dengan kombinasi antara perbankan dan APBN. Komposisi antara perbankan dan APBN ialah 67% dari perbankan dan 33% dari APBN.

Pemerintah juga memutuskan, dalam proyek LRT tersebut, PT KAI akan ikut serta membiayai proyek LRT Jabodebek sehingga investor proyek itu ialah PT Adhi Karya dan PT KAI. Kementerian Keuangan mengatakan, pada skema non-APBN, pemerintah akan memberikan investor LRT konsesi dan kemudian juga penjaminan. (Try/J-4) – mediaindonesia.com

Baca ini juga:

Proyek Kereta Ringan Akan Dapat Suntikan Tambahan PNM di 2018

Pemerintah akan Suntik Dana ke Adhi Karya untuk Percepat Proyek LRT

Facebook Comments
banner-corona