Siapa Yang Lebih Rentan Terkena Kanker Paru? Perokok Aktif Atau Pasif?

0
193
image: detik.com

Meningkatnya kesadaran akan gaya hidup sehat nyatanya belum berlaku pada para perokok. Jumlah perokok di Tanah Air selalu naik bertambah dari tahun ke tahun.

Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, jumlah perokok (di atas 15 tahun) mencapai 33,8 persen dari jumlah penduduk di Indonesia. Artinya, sekitar 90 juta orang Indonesia masih mengisap rokok. Padahal dalam data Survei Indikator Kesehatan Nasional 2016, jumlah perokok masih dalam angka 32,8 persen.

Selain pada orang dewasa, terdapat peningkatan jumlah perokok pada generasi muda. Masih dari laporan Riskesdas 2018, jumlah perokok usia muda yakni 10—18 tahun mencapai 9,1 persen. Angka yang seharusnya masih menunjukkan angka 0 persen karena anak dan remaja tak sepantasnya merokok.

Rokok lagi-lagi dianggap sebagai pembunuh berdarah dingin. Bagaimana tidak, orang yang tidak merokok seperti Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho bisa terkena kanker paru, hanya karena terpapar asap rokok dari lingkungannya.

Hal ini tentunya menegaskan bahwa perokok pasif yang kerap terpapar asap rokok pun berisiko sama dengan perokok aktif. Dokter spesialis paru dari Omni Hospital Pulomas, dr Frans Abednego Barus, SpP mengatakan bahwa semakin banyak terpapar asap rokok, maka seorang perokok pasif memiliki kemungkinan yang tinggi juga terkena kanker paru.

Kanker paru, menurut dr Frans termasuk penyakit mematikan. Peluang sembuh tentu ada, tetapi pasien yang berada pada stadium lanjut berisiko mengalami perburukan yang tak jarang berujung pada kematian.

“Pada stadium dini kemungkinan ada peluang untuk sembuh dengan operasi dan kemoterapi. Untuk stadium lanjut kemungkinannya kecil sekali bahkan tidak ada,” ujarnya.

Jelas para perokok pasif pun gelisah dengan risiko ini. Beberapa orang mengaku merasa sedih walaupun sudah cukup gencar gaung setop rokok dan kebanyakan sudah memahami bahayanya asap rokok, namun tetap saja masih banyak perokok yang merokok sembarangan.

“Banyak yang bilang kena kanker itu ‘takdir’, mau sehat mau nggak ya kalo udah ketentuan bakal kena. Ya betul, kanker itu takdir tapi kita nggak tahu kan pemicu kanker itu muncul dari apa. Siapa tahu justru dari asap rokok orang lain. Pernah tahu kan takdir itu ada yang bisa diubah dan ada yang mutlak. What if dengan berhenti ngerokok sebenernya kamu udah ngebantu ‘jalan’ orang lain untuk nggak mengalami penderitaan?” tutur Aisyah.

Namun, para perokok aktif pun merasa kerap dijadikan kambing hitam atas dampak menyeramkan dari asap rokok meskipun sudah merokok pada tempat yang seharusnya. Beberapa perokok aktif pun merasa bersalah jika asap rokok lah yang menyebabkan kanker paru yang menyerang perokok pasif.

Tidak jarang pula para perokok aktif ini ingin berhenti merokok, namun mereka mengaku itu bukanlah hal yang mudah dilakukan.

“Perasaan bersalah ada, namun berhenti merokok tidak semudah memberhentikan metromini,” ungkap Ridwan.

Kanker paru jelas penyakit yang harus diwaspadai semua orang. Selain kanker payudara dan kolorektal (usus besar), kanker paru jadi yang paling mematikan, dengan 1,8 juta kematian pada tahun 2018.

Kanker paru terbanyak diidap oleh pria. Menurut data dari GLOBOCAN 2018, ada sekitar 22.440 pria (14 persen) yang mengidap kanker paru. Kanker paru di Indonesia juga merupakan kanker ketiga terbanyak yang diidap baik wanita maupun pria, tercatat pada 30.023 kasus atau 8,6 persen dari keseluruhan kasus kanker.

Sayangnya, hanya 16 persen kasus kanker paru yang terdiagnosis pada stadium awal, menurut American Lung Association. Jika telah bermetastase atau menyebar ke organ lainnya, harapan hidup mereka hanya mencapai 5 persen. Rata-rata separuh orang dengan kanker paru meninggal dalam kurun waktu setahun usai terdiagnosis.

Yang perlu diketahui, WHO menyebut rokok menjadi faktor risiko utama dari kanker dan bertanggungjawab atas perkiraan 22 persen dari kematian akibat kanker, termasuk kanker paru yang terbesar. Pria yang merokok 23 kali lebih mungkin terkena kanker paru, sementara wanita 13 kali lebih tinggi daripada mereka yang tak pernah merokok. Sementara, prokok pasif memiliki 20-30 persen lebih tinggi terkena kanker paru apabila mereka terpapar sebagai secondhand smoker di rumah atau kantor. – sumber: detik.com

Facebook Comments