Ekspektasi Pemotongan 7DRRR, IHSG diperkirakan Berbalik Menguat

0
202

Highlights

·         BMRI: Laba bersih di 1H19 tumbuh +11,1% yoy menjadi Rp 13,5 triliun

·         JSMR: Jasa Marga Terbitkan Sukuk Rp 785 M

·         Sektor Coal: Likuiditas Emiten Batubara Diragukan

·         INDY: Indika akan Buyback Obligasi Global US$ 215 Juta

·         ASII: Mengaspal di Jalan Terjal

Ekspektasi Pemotongan 7DRRR, IHSG diperkirakan Berbalik Menguat

Earnings season yang sudah dimulai di US diawali dengan data yang kurang menggembirakan. Saham perusahaan kereta api CSX turun -10% dalam sehari seiring ekspektasi penurunan revenue 1%-2%, Bank of America juga mengindikasikan concern terhadap potensi efek penurunan Fed Rate terhadap pertumbuhan NIM. Sementara isu diskusi dagang US-China juga masih mendominasi pasar.

Bursa saham merespon sentimen dengan negatif, S&P500 turun -0,65% menjadi 2.984 diikuti Nasdaq melemah -0,46% menjadi 8.185 serta DJIA yang turun -0,42% menjadi 27.218. Indeks EIDO melemah (-0,6%) dengan bursa Asia pagi ini melemah, dimana Nikkei -0,88% dan Kospi -0,23%. Harga minyak dunia turun seiring produsen US menambah inventory. WTI turun -0,44% menjadi $56,5/barrel diikuti Brent -0,24% menjadi $63,5/barrel. IHSG pada Rabu kemarin melemah -0,11% menjadi 6.394 dengan pemberat indeks terbesar adalah Industri Dasar dan saham BBCA, BMRI serta ASII. Net sell asing pada pasar regular mencapai Rp 576,6 miliar dengan nilai tukar melemah di Rp 13.983/USD.

Hari ini akan ada rilis hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI mengenai penetapan 7DRRR yang di ekspektasi investor akan turun 25bps menjadi 5,75%. Kami menilai, konfirmasi atas hasil meeting RDG BI nanti siang berpotensi mendorong saham perbankan dan properti yang akan cukup terpengaruh terhadap tingkat suku bunga. Minggu ini juga telah dimulai earnings season 2Q19 yang berpotensi mendorong penguatan IHSG. – samuel

Keterangan 7DRRR

BI 7-day (ReverseRepo Rate

Bank Indonesia melakukan penguatan kerangka operasi moneter dengan mengimplementasikan suku bunga acuan atau suku bunga kebijakan baru yaitu BI 7-Day (Reverse) Repo Rate, yang berlaku efektif sejak 19 Agustus 2016, menggantikan BI Rate. Penguatan kerangka operasi moneter ini merupakan hal yang lazim dilakukan di berbagai bank sentral dan merupakan best practice internasional dalam pelaksanaan operasi moneter. Kerangka operasi moneter senantiasa disempurnakan untuk memperkuat efektivitas kebijakan dalam mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan. Instrumen BI 7-day (ReverseRepo Rate digunakan sebagai suku bunga kebijakan baru karena dapat secara cepat memengaruhi pasar uang, perbankan dan sektor riil. Instrumen BI 7-Day Repo Rate sebagai acuan yang baru memiliki hubungan yang lebih kuat ke suku bunga pasar uang, sifatnya transaksional atau diperdagangkan di pasar, dan mendorong pendalaman pasar keuangan, khususnya penggunaan instrumen repo.

Dengan penggunaan instrumen BI 7-day (Reverse) Repo Rate sebagai suku bunga kebijakan baru, terdapat tiga dampak utama yang diharapkan. Pertama, menguatnya sinyal kebijakan moneter dengan suku bunga (Reverse) Repo Rate 7 hari sebagai acuan utama di pasar keuangan. Kedua, meningkatnya efektivitas transmisi kebijakan moneter melalui pengaruhnya pada pergerakan suku bunga pasar uang dan suku bunga perbankan. Ketiga, terbentuknya pasar keuangan yang lebih dalam, khususnya transaksi dan pembentukan struktur suku bunga di pasar uang antarbank (PUAB) untuk tenor 3-12 bulan.

bi.go.id

Facebook Comments