|Ekonomi Pagi| IMF: Tanpa aksi selesaikan konflik dagang, risiko perlambatan ekonomi lebih masif

0
80
Samuel Sekuritas
  • Minim sentimen, IHSG diperkirakan melanjutkan pelemahan
  • Dollar Index melemah rupiah diperkirakan bergerak menguat.

Berita Global

·      Bank Dunia: Pertumbuhan Asia Pasifik akan melambat jadi 5,8% akibat perang dagang. Bank Dunia meramal, tingkat pertumbuhan ekonomi di wilayah ini akan merosot ke level 5,8% pada 2019 dari 6,3% pada 2018. (Kontan)

·      IMF: Tanpa aksi selesaikan konflik dagang, risiko perlambatan ekonomi lebih masif. (Kontan)

Berita Domestik

·         Peringkat daya saing global Indonesia turun 5 peringkat menjadi 50 dunia. (Kontan)

·         Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksi bisa di bawah 5%. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada  2019 ini hanya bisa mencapai 5%. Namun, Institute For Development of Economics and Finance (Indef) memprediksi bahwa PDB Indonesia bahkan bisa lebih rendah dari itu. (Kontan)

·         Pemerintah akan revisi regulasi Tax Holiday untuk KEK (Kawasan Ekonomi Eksklusif). Jangka waktu pemberian fasilitas Tax Holiday di KEK akan bersifat tetap (fixed), tidak lagi dalam kisaran tahun seperti sebelumnya.   (Kontan)

·         BI: Kegiatan usaha pada Q3-2019 menunjukkan perlambatan meski tetap tumbuh positif. Hal ini tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pada kuartal III-2019 yang sebesar 13,39%, atau mengalami penurunan sebesar 5,78% dari kuartal sebelumnya yang mencapai 19,17%. (Kontan)

Dollar indeks diperkirakan bergerak melemah ke level 98.4-98.60 terhadap mata uang kuat utama lainya. Pelemahan dollar didorong oleh ekspektaksi pelaku pasar akan tercapainya kesepakatan perdaganan secara parsial antara AS-China pada hari Jumat. Rupiah diperkirakan menguat akibat pelemahan dollar tersebut. Rupiah kemungkinan menguat ke level Rp14.100/USD-Rp 14.150/USD.

Highlights:

·      AKRA              : Membukukan Penjualan 10 Hektare Lahan di JIIPE

·      AALI                : Kembangkan Serangga Pemangsa Hama

·      SQMI              : BEI Masih Cermati Pendapatan Berulang Renuka Coalindo

·      BMRI               : Penyaluran KPR di 9M19 tumbuh menjadi Rp 43,1 triliun

·      CPO                 : Harga CPO Menguat dalam 5 Hari

·      PTPP               : PP Infrastruktur Memacu Proyek Air

Pasar AS melanjutkan penguatan seiring rencana pertemuan Presiden AS Trump dengan Wakil PM China Liu He. S&P500 naik +0,64% menjadi 2.938 diikuti Nasdaq +0,6% ke level 7.950 serta DJIA +0,57% menjadi 26.496. Rilis data terakhir adalah Inflasi US per Sep-19 sebesar 0% MoM; 1,7% YoY; Core 2,4% YoY (Aug-19 0,1% MoM; 1,7% YoY; Core 2,4% YoY).

Indeks EIDO menguat (+0,63%) seiring dengan bursa Asia yang pagi ini bergerak menguat, Nikkei +0,71%. Harga minyak dunia menguat menjelang meetingg OPEC Dec-19 untuk menjaga supply dan stabilisasi harga pada tahun 2020. Pagi ini Brent berada pada level $59,4/barrel dan WTI $53,8/barrel. IHSG Kamis melemah -0,09% menjadi 6.023 dengan pemberat indeks adalah Agriculture serta saham BBRI, ICBP dan UNVR. Net buy asing pada pasar regular mencapai Rp233,7 miliar.

Menutup minggu ini kami perkirakan IHSG kembali melemah seiring minimnya sentimen untuk menggerakan pasar. Dari bursa AS sendiri sentimen hanya datang dari harapan terhadap hasil trade talks AS-China sementara data inflasi menunjukkan pertumbuhan tipis cenderung stagnan. Sementara itu investor cenderung wait and see menjelang rilis data Retail Sales dan Jobless Claims US pekan depan serta potensi pemotongan Fed rate akhir Oct-19 ini. Probability cut rate bulan Oktober naik menjadi 76% dari Sep-19 sebesar 39,8%.

Baca juga:

Berhadiah Miliaran, CNBC Indonesia Gelar Golf Tournament 2019

Facebook Comments