Kesalahan Yang Sering Terjadi Pada Fase Konstruksi Pipanisasi

0
2034

Kesalahan Yang Sering Terjadi Pada Fase Konstruksi Pipanisasi

Pada fase konstruksi, dimana semua rancangan dari enginering sudah mulai di buat, akan banyak sekali sekali kesalahan yang terjadi. Memang tidak ada yang sempurna dalam sebuah pengerjaan, tapi yang ingin saya sampaikan di sini adalah bagaimana kita mempelajari beberapa kesalahan yang sering terjadi pada fase konstruksi dengan tujuan kita tidak membuat kesalahan tersebut. Dan pada akhirnya, kita bisa meminimalisir kesalahan yang terjadi.

Wah sepertinya sudah lama sekali dari terakhir saya update tulisan di blog ini, kangen juga rasanya menulis kembali. Setelah beberapa waktu lalu dapet pengalaman berharga di site (lapangan). Rasanya tidak sabar untuk membagi pengalaman di blog saya yang sederhana ini. Walaupun, memang bukan sebagai orang yang paling berpengalama dalam membagi ilmu, tapi paling tidak, ada yang bisa saya bagi. Mudah mudahan bisa menjadi manfaat bagi para pembaca yang mampir.

Di tulisan pertama saya ini, mungkin tidak akan secara sistematis dan detail dalam membahsa objectnya. Ya sebagai pemanasan di samping itu sambil saya mencoba kembali mengingat dan merumuskan semua pengalaman yang terjadi selama di site.

Konfigurasi Support

Konfigurasi support adalah hal yang pertama saya masukan dalam kesalahan yang sering terjadi dalam fase construction. Karean banyak kesalahan yang terjadi bukan saja dari sisi construction, tapi kesalahan tersebut di mulai dari fase engineringnya. Misalnya, konfigurasi Guide dan Stopper yang tidak sesuai pada gambar, maka hal tersebut pula yang di ikuti oleh pekerja di lapangan.

Ingat, benar tidak nya gambar di isometrick, itulah yang akan di kerjakan oleh orang lapangan. Orang lapangan tidak mungkin mengecek apakah isometrik ini benar atau keliru, pokonya isometrik yang sudah di tangan, itulah yang di kerjakan. Dilapangan tidak mungkin membawa laptop untuk mengechek gambar, jangankan laptop, HP saja tidak di perbolehkan masuk pada fase fase akhir konstruksi.

Kita harus maklum lah, orang lapangan itu pekerja berat. Mereka harus memotong plat, mengelas, mengerinda dan lain sebagainya. Tenaga mereka habis untuk itu semua, belum lagi cuaca yang panas, jadi mereka ga sempat untuk ngecek gambar. Oleh karena itu , orang engineering lah yang memastikan bahwa gambar tersebut benar. Ingat, checking checking dan chekcing.

Kesalahan sederhana dalam isometric, bisa berkibat fatal di lapangan. Ok kalau pipa itu non critical, tidak perlu di hitung stress analaysisnya oleh setress engineer. Tapi kalau pipa itu critical, terlebih pipa itu besar atau di terletak di elevasi yang tinggi, akan sangat makan waktu ketika membongkarnya atau memodifikasi support tersebut.

Dari sisi engineering sudah di bahas, sekarang kita menegok ke kesalahan dari pihak construction (atau orang lapangan). Contohnya adalah dummy seperti gambar di samping, apa yang keliru? yang keliru adalah dummy tersebut berukuran sangat panjang, hampir 5 meter dari CL pipe nya. Loh apakah bermasalah dummy yang terlalu panjang?

Kalau anda memahami Stress analysis, dummy ini akan bermasalah. Ia akan meyebabkan fail pada sistem. Dummy yang terlalu panjang, terlebih ada konfigurasi lain seperti stopper atau guide di dummy. Ia akan fail, gagal atau rusak.

Dummy sendiri paling tidak ketinggianya 300-500 mm dari CL pipenya. Kalau lebih dari itu, bisanya di beri support lain di bawah dummy, entah Tpost atau support structural lainya. Biasanya, hal tersebut sudah tercapture oleh stress engineer dan seharusnya sudah di corporate oleh designer dalam bentuk isometric.

Biasanya, orang lapangan suka menggampangkan. Dari pada susah bikin Tpost di bawah dummy, dibuatlah dummy yang sekalian panjang biar sekalian kerja. Hasilnya ya seperti di samping. Oleh karena itu, orang engineering pelu untuk mengechek hal seperti ini, dan kalau memang perlu harus di jelaskan kepada suppervisornya. Dan biasanya memang ada bagian tertentu dari engineering yang ngecek ngeck, namanya line checker.

Las Lasan

Las lasan adalah hal kedua yang sering terjadi selama fase konstruction, hal sederhana namun bisa berakibat fatal. Dua hal yang saya ingin bicarakan mengenai las lasan yang ada kaitanya pula dengan stress engineer. Pertama mengenai Tack weld.

Tack Weld

Tack weld atau las titik memang tidak bisa dipungkiri amat sangat di butuhkan ketika proses pengelasan berlangsung. Fungsinya, untuk mempermudah atau menjaga object agar tetap di center dan tidak berubah. Fungsi tack weld pada dasarnya hanya sementara, ketika lang lasan utama terlah terbentuk, tack weld ini akan di hilangkan.

Pada prakteknya, tack weld ini lupa untuk di bersihkan. Bisa jadi karena si weldernya lupa, atau karena orang yang bertugas membersihkannya tidak melakukan. Karena, dalam satu tim pengerjaan support di lapangan, bisanya terdiri dari weldder, fitter, tukan membersihkan, dan bahkan helper. Jadi bisa jadi, orang yang bertugas lupa untuk membersihkan.

Lalu apa permasalahannya? masalaha nya adalah, satu tack weld bisa endure (menahan) beban sampai dengan satu ton. Nah, gambar di atas saya ambil dari bawah shoe pipe. Karena di tack weld, maka pipa itu bisa berfungsi sebagai stopper atau bahkan anchor. Bahanya, kalau pipa tesebut di desain untuk bergerak, maka pipa nya bisa melengkung karena tertahan oleh stopper (yang tidak sengaja terbentuk dari tack weld).

Incomplete Weld

Lasan yang tidak lengkap menjadi permasalah selanjutnya. Gambar di samping adalah gambar dari guide yang kalau kita teliti, las nya hanya pada kedua ujungnya, sedangkan untuk tengahnya tidak lengkap. Lasan pada support yang tidak lengkap, terlebih pada stopper. akan berakibat menurunya kondisi desain dari supprt tersebut, yang misalnya ia seharusnya mampur untuk menahan beban 600kg, jadi hanya bisa menahan 200kg misalnya.

Yang terjadi adalah, nantinya support tersebut akan jebol. Kalau cuma supportnya tersbut yang jebol mungkin tidak jadi masalah, tapi kalau di situ ada flange dan berakibat kebocoran, tentu akan menjadi masalah besar.

Clash Pipe

Selanjutnya adalah pipa yang clash atau bentrok. Di lapangan adalah hal yang berbeda ketika berada di fase engineering. Ketika di engineering, setelah kita memodelkan pipa, kita bisa melihat hasilnya di Navis atau program yang sejenis. Bahkan, kita bisa melihat atau mengextrak mana saja pipa yang calsh.

Di lapangan, hal yang berbeda terjadi. Ada pipa yang clash dengan strcuctrure, equipment, suport bahkan ada pipa yang clash dengan pipa yang lain. Bisa saja pipa itu sudah terpasang rapih, baru sturcture di pasang, atau sebaliknya. Bisa jadi, pipa sedang di pasang lalu ada komponen (part) yang kurang jadi di hold dulu, lalu kemudian setelah akan di pasang kembali ada pipa lain yang menutupi. dan macam macam kejadiannya.

Di lapangan, pemasangan pipa akan di bagi per sistem. Dan setiap orang dalam sistem tersebut akan berlomba untuk menyelesaikannya, yang kadang yang penting pipanya bisa terpasang dan segera di serahkan ke pihak lainya, comisionling atau bahkan ke owner. yang kadang pipanya geser sedikit atau tidak sesuai ukuran di isometric orang lapagan tidak terlalu menghiraukan, yang penting jobnya selesai. dan ketika pipa orang lain datang untuk di pasang, ternyata sudah tertutup oleh pipa sebelumnya. Han itu sering sekali terjadi.

Pada gambar yang dishare di atas, pipa tersebut insulationnya clash oleh bracing dari sipil. Bisa jadi, orang yang memasang pipa tersebut sudah mengangap Ok pipanya sudah rapih dan ga clash. Namun, ia lupa, kalau pipa tersebut adalah pipa insulation. Sehingga, ketika orang yang bertugas memasang insulasi datang, ia sedikit kerepotan. Ya di buat gampang aja, dia cowak sedikit insulasi yang clash dan urusan jadi beres. Padahal, kalau kita mau telititi, isulasi yang clash tersebut berpotensi akan menjadi stopper bagi pipa tersebut.

Pelatihan terkait:
Chemical risks in petrochemical industry – Risiko kimia dalam industri petrokimia – CEPAGRAM
Chemical risks in petrochemical industry – Risiko kimia dalam industri petrokimia – CEPAGRAM
Facebook Comments