Kemustahilan menghilangkan kemacetan di kota-kota besar di Indonesia.

0
246

Dalam dua dasawarsa terakhir ini perihal kemacetan yang kerap terjadi setiap hari di kota-kota besar di Indonesia selalu menjadi permasalahan bagi seluruh penduduk, khususnya bagi pengguna kendaraan, terutama pada jam dan hari hari tertentu yang kemacetannya sungguh luar biasa, misalnya pada jam berangkat atau jam pulang kerja atau pada hari-hari libur.

Tentu masalah kemacetan ini telah menjadi tugas dari para pengelola negara dan pengelola daerah untuk dapat mengurangi tingkat kemacetan di seluruh kota yang ada di Indonesia, berbagai cara untuk dapat mengurangi kemacetan dengan cara three in one, ganjil genap bahkan dengan cara berbayar namun hasilnya sangat jauh dengan apa yang diharapkan dan kemacetan tetap saja terjadi seperti biasanya. Cara lain yang dilakukan oleh penguasa daerah adalah dengan cara meningkatkan jumlah dan kualitas transportasi massa namun itupun tidak dapat mengurangi kemacetan dikarenakan memang dalam transportasi massa itu sendiri sudah macet alias padat dan berdiri desak-desakannya sudah minta ampun bagaikan susunan buku yang disimpan dalam rak buku, tidak ada lagi kenyamanan untuk berkendaraan umum di negara kita ini baik itu bus, kereta ataupun angkutan umum.

Faktor-faktor yang memberikan andil yang sangat besar dalam kemacetan ini adalah faktor budaya bangsa kita dan pihak pemerintah sendiri, faktor budaya yang dimaksud disini adalah faktor gengsi, gengsi bangsa Indonesia ini sangat tinggi dan ini sangat sulit untuk dihilangkannya karena memang karakter bangsa Indonesia yang membuatnya seperti itu, bangsa Indonesia menghargai seseorang bukan dari ahlak, kompetensi atau faktor lain, bangsa kita akan menghargai seseorang jika orang itu memiliki banyak kekayaan atau hartanya berlebih, sebagai contoh jika kita turun dari kendaraan umum atau ojek kemudian  masuk kedalam sebuah hotel atau restoran maka jangan diharap dapat sapaan selamat pagi, siang atau malam dari petugas security atau petugas restoran, jika kita mau bertemu klien bisnis dan mereka tahu bahwa kita turun dari angkutan kota maka yang pertama muncul dalam sikapnya adalah kurang welcome dan under estimate dalam segala hal, berbeda jika kita turun dari kendaraan pribadi apalagi kendaraan yang mahal harganya maka penerimaannya akan sangat berlainan dan akan sangat dihormati, itulah budaya bangsa kita sehingga hal tersebut membuat orang selalu memaksakan untuk menggunakan kendaraan pribadi dalam keadaan jalan semacet apapun. Namun faktor kemacetan yang paling besar adalah faktor kemampuan dan kebijakan pemerintah, faktor kemampuan pemerintah adalah faktor penyediaan jalan umum yang sepadan dengan jumlah kendaraan, bayangkan jika disuatu kota jumlah seluruh kendaraan yang ada kemudian antri disepanjang jalan maka jalan yang ada tidak dapat menampung antrian kendaraan tersebut, panjang jalan kalah panjang dengan panjang antrian jumlah seluruh kendaraan yang ada, kemudian dalam hal kebijakan pemerintah yang menjadi jalan semakin macet adalah keluarnya kebijakan mengenai mobil-mobil yang harganya murah sehingga masyarakat kelas menengahpun dapat membeli kendaraan yang sangat murah sehingga jumlah kendaraanpun semakin banyak dan pastinya jalan umumpun akan semakin bertambah macet.

Bagi pemerintah masalah kendaraan ini memang menjadi dilema dikarenakan pendapatan negara yang paling juara adalah pendapatan dari pajak kendaraan, memang masih ada satu cara yang paling jitu untuk dapat mengatasi kemacetan di kota-kota besar ini yaitu dengan cara pembatasan pemakaian tahun kendaraan mengadopsi cara yang digunakan oleh negara tetangga kita namun pertanyaannya apa bisa ? karena dengan pembatasan jumlah kendaraan konsekuensinya adalah penerimaan dari pajak kendaraan akan sangat berkurang sekali sementara saat ini APBN saja hampir setiap tahun defisit dan apa mampu menghadapi tekanan-tekanan politis dari negara yang memproduksi kendaraan, rasanya sangat mustahil karena negara kita sangat tergantung sekali dengan negara-negara produsen kendaraan tersebut.

Lalu apa yang harus kita perbuat untuk mengatasi kemacetan-kemacetan tersebut, tentu kita tidak boleh pesimis untuk menghadapi hal yang satu ini, berbagai cara yang telah dan berlanjut terus dilakukan oleh penguasa daerah dengan cara menggunakan sistim ganjil genap ataupun berbayar serta memperbaiki kualitas dan jumlah sarana transportasi massa memang sedikit berhasil untuk mengurangi kemacetan namun berkurangnya kemacetan tersebut sangat tidak sebanding dengan bertambahnya jumlah kendaraan yang baru sehingga dengan berjalannya waktu maka kekurangan kemacetan tersebut akan sangat tidak berarti dan realisasinya tetap akan semakin macet. Satu-satunya cara untuk menghilangkan kemacetan adalah kembali kepada kita sendiri sebagai pengguna kendaraan, yaitu kita harus dapat merubah budaya gengsi kita dan budaya bagaimana cara menghormati dan menghargai orang lain sehingga kita melihat orang lain itu bukan berdasarkan dia turun dari mobil apa dan kesadaran bagi para pemilik kendaraan dalam hal menggunakan kendaraannya dalam waktu-waktu tertentu saja dan juga kesadaran seluruh warga untuk tidak memaksakan membeli mobil murah demi gengsi padahal ditempat tinggalnya tidak memiliki garasi mobil sehingga lahan  bahu jalan umum di sekitar tempat tinggalnya menjadi lahan garasi mobilnya. Mustahilkah itu ???

 

 

***bahar***

 

Facebook Comments
banner-01