Kisahku dengan siNaila Golfer yang Cantik

0
192
Jenny Shin - Bukan si Naila golfer Cantik itu

Cerpen: Kisahku dengan siNaila Golfer yang Cantik

“ Mas…besok golf yuk ,” pesan singkat di Handphoneku. Bak petir disiang bolong, aku nggak menyangka diajak main golf oleh siNaila. Gemetar rasa tangan saat memegang Handphone. Bingung dan rasa senang menggelanyut di hati, apa yang harus aku jawab. Kesempatan langka dan jarang bisa main golf sama wanita cantik yang satu ini tidak kusia-siakan. Seketika juga aku jawab lewat keypad Handphone dengan penuh ceria ‘ OK “

Sepenggal kisah diatas adalah bagian dari perjalanan pertemanan bersama si golfer cantik.

Jenny Shin - Bukan si Naila golfer Cantik itu
Jenny Shin – Bukan si Naila golfer Cantik itu

Sejak pertama kali aku lihat, wanita itu terlihat bersahaja, ramah dan sopan, murah senyum dengan lesung pipit di pipinya. Sudah berkali kali aku bertemu dalam kegiatan golf bareng, namun tak sekalipun aku berani menyapa dan menegurnya. Bukan persoalan istilah jaga image, namun aku hanya sadar diri saja, aku ini siapa .. dan pantaskah menyapa dan berteman dengan si golfer cantik itu. Mungkin juga hanya perasaanku saja, karena tidak seperti biasanya, aku dengan wanita siapapun dan secantik apapun juga akan berlaku ramah dan selalu menyapa. Tapi kali ini entah kenapa dengan si golfer yang satu ini, si golfer cantik itu aku seolah-olah tidak ada keberanian dan hilang nyali.

Beberapa kali aku liat dia sempat bercanda dalam chattingan di grup Wa dengan teman-teman lainnya, membuat aku yakin bahwa si golfer cantik ini memang aslinya ramah dan mudah bergaul dengan siapapun.  Hingga suatu hari, aku dengan segala keyakinan dan keberanianku aku mencoba berkomunikasi lewat chattingan pribadi alias japri.

“ Hallo pa kabar Mbak, lagi ngapain nih ,” bahasa standar sapaan yang biasa aku pakai saat chatting pertama. Lama kutunggu dari siang sampai sore tidak ada balasan. Sedikit hati agak kecewa juga, namun aku tetap positif thingking saja. Mungkin dia lagi sibuk, nggak sempat pegang HP atau dia lagi tidur.

“ Baik Mas…pa kabar juga, sorri nih baru balas, tadi seharian sibuk ngurusin proyek. “.

Jawaban chattinganku siang hari yang dibalas kira-kira jam sembilan malam. Spontan akupun langsung berusaha untuk melanjutkan dan membalas chattingan itu.

” Ya nggak papa.. namanya juga sibuk, oooh ya sorri nih ngganggu nggak, malam2 gini chattingan ,” balasku.

“ Nggak papa kok ,” jawabnya kemudian.

Akhinya akupun chattingan panjang lebar dari soal bisnis dan macam2 yang diomongin dari hobi makanan, kegemaran, canda ria hingga tak terasa sudah hampir jam sepuluh malam.

Sejak malam itulah, keberanianku mulai tumbuh untuk berchatt ria dengan si golfer cantik. Aku biasa sebut si golfer cantik. Sebenarnya nama aslinya adalah Naila, gadis cantik berkulit putih itu berasal dari Solo. Kota di Jawa Tengah yang terkenal dengan gadis-gadis cantiknya yang lembut bak istilah Putri Keraton.

Entah berapa kali sudah aku chattingan sama si golfer cantik ini, mungkin sudah berpuluh puluh kali tak terasa dan tak terhitung. Namun hanya satu harapan yang belum terkabulkan. Kapankah aku bisa bermain golf bersamanya. Berat hati dan ciut nyaliku untuk memberanikan diri mengajak main golf bareng. Tidak seperti biasanya dengan wanita siapa saja dan secantik apapun itu aku selalu berani untuk memulai. Kali ini aku benar benar merasa jadi laki laki pencundang, cemen dan penakut tak bernyali.

Malam itu bulan dan bintang dilangit indah sekali, terlihat cahaya begitu cerah. Aku sengaja keluar melihat keindahan malam itu diteras rumah. Kutatap bintang satu persatu, Kulambaikan tanganku kepada sang Bulan menjelang purnama sudah nampak hampir sempurna.

“ Tingggg…tinggg…” bunyi Handphoneku bertanda ada chattingan masuk.

Seperti biasa dan lazimnya orang orang saat ini, hampir tak pernah ketinggalan HP selalu dipegang kemana mana. Begitu pula aku, sama sekali hampir tak pernah lepas dari genggaman.

Dua kali chattingan masuk, aku belum sentuh HP yang aku taruh diatas meja, namun rasa penasaran dan ingin tahu untuk melihat isi chattingan sangat kuat.

“ Hemmmm…ini pertanda kebaikan bulan dan bintang malam ini,’ gumamku. Sebuah chattingan muncul dari si golfer cantik,

”malam Mas Imam, lagi ngapain nih, gini hari,”.

Antara yakin dan tidak yakin, aku pandang terus HP untuk memastikan bahwa itu chattingan itu benar dari si golfer cantik.

Dengan sok puitisi dan sedikit ngegombal (hihihihiiiii), bak perayu ulung dan berlebay lebay, akupun membalas chattnya ..

“Ya nih, lagi santai sambil memandang bintang dan bulan yang cantik dan sinarnya mirip wajah cantiknya Mbak Nadia,”.

“Ahhh…bisa aja Mas Imam..nggombal ni yee.” Balasnya kemudian.

Tak terasa berchatt ria, handphoneku terasa panas, aku pun menyudahi chatting dan berpamitan untuk istirahat. Namun sesaat aku terkesima dengan chatt terakhirnya.

“ Mas…besok golf yuk ,” pesan singkat di Handphoneku.

Bak petir disiang bolong, aku nggak menyangka diajak main golf. Kesempatan langka dang jarang bisa main golf sama wanita cantik yang satu ini tidak kusia-siakan. Antara percaya dan tidak,  seketika juga aku jawab lewat keypad Handphone dengan penuh ceria

” OK “

Pagi sekali aku sudah bangun dan bersiap-siap untuk berangkat memenuhi ajakan si golfer Cantik Mbak Naila. Udara pagi yang dingin tidak mematahkan dan menyurutkan semangat pagiku, kesempatan yang jarang benar benar aku manfaatkan.

Seharian aku golf bersama Mbak Naila si golfer cantik ini dan bersama teman-teman yang lain, penuh canda dan tawa ceria ngobrol ngalor ngidul. Dan selesailah sudah permainan golf kira-kira jam 1 siang.

Jenny Shin - Bukan si Naila pinterest.com
Jenny Shin – Bukan si Naila
pinterest.com

Selesai golf dilanjutkan makan siang bersama di cafe club house, begitu bahagia dan senang hatiku, bisa bermain bersama si golfer cantik Mbak Naila.

Namun tak kusangka, hari itu untuk pertama kalinya aku bisa ketemu si golfer cantik, dan sekaligus untuk hari terakhirnya pertemuan. Entah kenapa, Mbak Naila, memutuskan untuk kembali ke Kota asalnya di Jawa Tengah. Tak sepatah katapun bisa aku aku ucapkan. Ibarat sebuah lagu berjumpa untuk berpisah. Aku duduk termenung sambil memegang gelas minuman, tanpa bisa berucap satupun, antara percaya dan tidak.

Kenapa dan mengapa sebabnya, akupun tidak pernah bertanya. Bahkan sampai saat inipun aku sudah tidak pernah chattingan lagi. Teman-teman bermain golf-pun tidak satupun yang tahu penyebabnya, kenapa harus memutuskan kembali ke kota asalnya.

Akupun hanya bisa berdoa, semoga sukses, sehat terus dan selalu mendapat lindungan-Nya. Amin ..

oleh: Imam Ntop
Edisi Galau dan Lebay Gara2 krisis ..

Baca juga ini:

Perjalanan Cak Eqbal dari Wika ke CEPA

Lamborghini SP-2019 Untuk Mainan Anak

 

cepagram.com – the only one in the world of CEPA

Facebook Comments