Merdeka Adalah Hak Kita

0
119
Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia - Dokumen Negara (youtube)

MERDEKA ADALAH HAK KITA

Kita bangsa Indonesia patut berbangga diri, kemerdekaannya diraih bukan karena hadiah, tapi karena perjuangan yang berdarah-darah. Banyak sejarah perjuangan yang telah kita rekam, karena penjajah memeras keringat dan darah kita selama 350 tahun. Perjuangan demi perjuangan melahirkan pahlawan di setiap masanya. Mulai dari Pangeran Diponegoro hingga Des Alwi, pahlawan penyimpan bukti sejarah.

Thailand boleh berbangga karena tidak pernah dijajah, tapi seberapa banyak pahlawan yang telah dilahirkan oleh sejarah perjuangan mereka? Tidak banyak, mereka hanya punya sejarah perjuangan figur dari raja ke raja. Mereka tidak pernah mengungkap sejarah pahlawan yang heroik, berani menantang penjajah, bermodal nyawa dan airmata.

Dalam buku “Naar de Republiken Indonesia”, Tan Malaka menulis bahwa Indonesia memilih merdeka secepatnya bukan tanpa sebab, jika saja Indonesia tidak segera memproklamasikan kemerdekaannya, maka Belanda akan segera memberikan kemerdekaan kita sebagai hadiah. Jika kemerdekaan berupa hadiah, maka perjuangan bangsa selama ratusan tahun akan kehilangan titik kulminasinya.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Dan itu ternyata benar, secara cepat kita mengumumkan kemerdekaan, rasa bangga atas perjuangan selama ratusan tahun menjadi bermakna dan ruh kehormatan bangsa menjadi aroma disetiap penjuru negeri. Orkestrasi kemerdekaan masa lalu, selalu tercium dari tahun ketahun. Seperti halnya implementasi sejarah, semakin lama semakin hilang daya tanamnya dari generasi ke generasi. Bangsa kita, juga tidak lepas dari paradigma ini. Mengingat sejarah, bukan hanya persoalan menghafal nama-nama pahlawan, namun memahami anatomi perjuangan mereka jauh lebih penting.

Masih ingat dengan Chairil Anwar?
Chairil Anwar bukanlah seorang tentara, bahkan mungkin, tidak pernah sekalipun membunuh seorang penjajah. Tapi dia adalah satu-satunya penyair yang merekam peristiwa perang di Karawang-Bekasi dengan tulisan puisinya, menyebar gairah perlawanan melalui syair dan jurnalisme yang luar biasa. Di suatu era, yang percetakan, media dan dunia duplikasi sangat terbatas. Di era modern ini, mungkin banyak penyair sekaliber Chairil, tapi zaman sudah berbeda. Tidak ada lagi batasan-batasan komunikasi seperti era perjuangan, oleh karenanya, anatomi perjuangan para pahlawan jangan hanya dilihat dari cara mereka berjuang, tapi dari bagaimana mereka mewujudkan perjuangan menjadi sebuah kemenangan.

Bung Karno pernah berucap, “Perjuangan kami lebih mudah karena menghadapi penjajah, tapi perjuangan kalian akan jauh lebih sulit karena menghadapi bangsamu sendiri”. Bangsa kita sudah merdeka 74 tahun. Banyak yang menganggap masih banyak yang belum mencicipi manisnya kemerdekaan. Saya kurang sepakat dengan ungkapan ini. Karena kemerdekaan sejatinya ada di otak kita. Penjajahan ataupun kemerdekaan adalah hal samar, tergantung kita menyikapi perasaan itu, demikian menurut Newton. Kita akan selalu merasa terjajah dalam kemerdekaan, jika otak kita selalu dikungkung oleh rasa takut dan tertekan. Di era modern, perasaan terjajah akan terwujud menjadi depresi, yang ujung-ujungnya kehilangan ilusi logis dan membiarkan fantasi-fantasi keputus-asaan merajalela.

Bangsa kita adalah bangsa pejuang. Kita telah membuktikannya dalam perjalanan sejarah. Tidak ada bangsa manapun yang bisa menandingi kita dalam hal prestasi perjuangan. Bayangkan, negara kita terdiri dari ribuan pulau yang melintang mulai dari ujung Samudra Hindia, hingga ke ujung barat Samudera Pasifik, semua terpencar menjadi kesatuan Negara Republik Indonesia. Silakan cari pembandingnya, bangsa mana yang sanggup menjaga keutuhan ribuan pulau tetap menjadi 1 negara dalam puluhan tahun? Negara sekelas Rusia saja, tidak sanggup menjaga keutuhan negaranya, padahal mereka hanya terdiri dari satu hamparan daratan luas. Sekarang tercerai-berai. Bahkan kalau saja Amerika bukan negara federasi, bisa dipastikan mereka juga akan mengalami disintegrasi.

Kemerdekaan adalah hak siapapun, mari kita jaga wacana ini. Bangsa kita secara konstitusi telah menjaga kemerdekaan kolektif maupun individual, mari kita kawal garansi ini. Tidak boleh lagi ada penjajahan-penjajahan domestik di negara ini. Tidak boleh lagi ada perampasan hak di negara ini. Karena seperti halnya ucapan Bung Karno. Jika ada penjajahan yang dilakukan oleh bangsa kita sendiri, maka perjuangannya akan jauh lebih sulit. Karena penjajah itu bisa saja berupa petani, kiyai, tentara, pendeta, pemimpin, menteri, presiden, atau siapapun yang menurut perkiraan kita seolah pejuang. Padahal jauh lebih kejam dari periaku penjajah. Mari jauhi perilaku kita dari penjajah maupun terjajah…..

Dirgahayu Indonesiaku!
1945 – 2019

Oleh: Islah Bahrawi
editor: lea

Facebook Comments